Monday, August 13, 2012

Bang Haji Kena Isu SARA


Baru-baru ini , bang Haji Rhoma Irama dipanggil oleh Panwaslu DKI. Bang haji dipanggil sehubungan karena isu SARA. Dalam salah satu ceramahnya, bang haji mengatakan kepada para pendengar untuk memilih pemimpin yang seiman. Gua gak tau apakah ceramah ini berhubungan dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta atau enggak.

Gua sebagai salah satu warga non muslim, sedih mendengar ceramah ini. Bagaimana mungkin di Negara yang begitu majemuk seperti ini, bang haji tega mengatakan itu. Memang apa yang disampaikan bang haji itu benar dari sudut pandang agama Islam. Tapi, bukankah Negara kita ini begitu beragam etnis dan agamanya?
Gua sih berharap agama janganlah dipolitisasi macam itu. Berhubung agama Islam adalah mayoritas di Indonesia, kalau warga muslim dianjurkan untuk memilih pemimpin yang seiman, itu berarti warga non muslim tidak akan bisa memimpin Negara ini. Kami yang warga minoritas, sudah pasti kalah suara. Kalau warga hanya memilih pemimpin yang seiman, buat apa ada 5 agama di Indonesia. Akan terjadi chaos jika hal ini benar-benar terjadi.

Pendukung bang haji juga membela dengan mengatakan bahwa ceramah bang haji itu bukan SARA. Gua mulai bingung disini. Apa para pendukung bang haji gak tau kepanjangan SARA?
Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan. Gua rasa udah cukup jelas kalau yang dikatakan bang haji berkaitan dengan agama, dan tentu saja itu termasuk dalam unsur SARA.

Inilah mengapa sering terjadi bentrokan antarsuku atau antaragama di Indonesia. Kita masih begitu sulit untuk menyingkirkan perbedaan. Kita terlalu mementingkan ego kita. Mengapa kita tidak bisa bersatu untuk mewujudkan Negara yang lebih baik.

Kalau pemimpinnya memang jujur, pro rakyat, dan anti korupsi, mengapa tidak jika kita memilihnya? Gua mengatakan ini bukan untuk mendukung salah satu calon. Karna gua sendiri gak tinggal di Jakarta. Tapi gua prihatin dengan keadaan di Indonesia ini. Gua rasa, cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang bersatu tanpa memandang perbedaan, hanyalah angan-angan belaka, kalau dalam taraf pemilihan gubernur saja masih terdapat isu SARA.

Kalau ada pihak yang merasa tersinggung dengan artikel ini, gua mohon maaf. Gua hanya menulis ini untuk mengungkapkan rasa prihatin gua terhadap masalah yang terlalu sering melanda Indonesia.
Semoga artikel ini tidak dijadikan perdebatan, melainkan dijadikan alat untuk berkaca dan bermawas diri.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan