Wednesday, December 25, 2013

Selamat Natal

Ahhh. Natal.

Gua selalu suka merayakan Natal. Mengenang tentang kelahiran Yesus ke dunia. Memikirkan keselamatan yang ditawarkannya. Indah banget menurut gua. Maaf kalau artikel ini kurang berkenan bagi yang Non-Kristiani. Lo boleh skip artikel ini kok.

Tapi tenang, artikel ini sama sekali tidak menyangkut SARA.

Gua hanya menuliskan apa yang ada di pikiran gua mengenai Natal.

Oke, kembali ke topik.

Menurut gua, Natal sudah mulai kehilangan esensinya. Orang lebih sibuk menghias rumah, menghias pohon natal, membeli baju baru, atau membeli kue. Tapi jarang banget yang meluangkan waktu untuk memikirkan Natal yang sesungguhnya. Mengenai kelahiran Yesus di dunia ini.

Sebenarnya, sah-sah aja merayakan Natal dengan cara itu. Tapi, cobalah merasakan Natal yang sesungguhnya di hati kalian. Rasanya itu damai. Sejuk.  Dan juga kadang emosional, karna lo sadar betapa baiknya sebenarnya Tuhan itu. Dia mengutus AnakNya supaya lo selamat. Kurang baik apa lagi coba?

Natal itu berasal dari bahasa Latin, dies natalis. Yang artinya kelahiran. Jadi Natal itu memperingati tentang hari kelahiran Yesus.

Sebenarnya, gua bingung juga, kenapa bisa tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus. Akhirnya gua cari di wikipedia, dan inilah jawabannya.

Peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal. Klemens dari Aleksandria mengejek orang-orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya – terutama oleh Origenes – dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.
Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember. Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab.”

Sekarang gua mengerti kenapa katanya merayakan Natal itu dianggap haram. Karena menurut sejarah, tanggal 25 Desember adalah perayaan terhadap Dewa Matahari. Bukan terhadap Yesus. Memang di Alkitab tidak ada menyebutkan secara pasti kelahiran Yesus. Semuanya hanya merupakan terkaan.

“Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.”

Jadi, sebenarnya Natal itu dulu adalah tradisi orang Romawi. Bukan mengenang kelahiran Yesus, tapi semacam perayaan atau festival gitu. Gua juga gak tau deh apa nama perayaannya. Dan akhirnya, perayaan itu menyatu dalam Natal.

Yah, gua gak terlalu ambil pusing lah sama itu. Mau dikata haram kek, dikata kegiatan orang kafir kek. Gua mah bodo amat. Karna bagi gua, memang bukan tanggalnya yang penting, tapi kejadian itu lah yang penting. Mungkin Yesus emang gak lahir tepat tanggal 25 Desember. Tapi apalah itu. Gua yakin dan percaya, Dia melihat kesungguhan hati kita memperingati kelahirannya. Terlepas dari segala kontroversi yang ada.

Gak heran sekarang Natal malah lebih heboh menghias pohon natal. Saling bertukar kado. Bahkan tokoh Santa Claus lebih terkenal daripada Yesus. Ah miris memang.
Ngomong-ngomong, ternyata Sinterklas dan Santa Claus itu beda loh.

Sinterklas adalah seorang Uskup dari Myra. Namanya adalah Santo Nikolas. Dia suka membagi hadiah pada hari ulangtahunnya, yaitu tanggal 6 Desember. Nah, Sinterklas ini didampingi oleh Piet Hitam. Bukan nama sebenarnya sih itu. Tapi gua taunya itu. Piet Hitam ini bakal menghukum yang nakal dan memberi hadiah pada yang baik.

Kalau Santa Claus, adalah tokoh rekaan dari Coca-Cola. Dia adalah kakek yang tinggal di kutub utara dan punya rusa terbang. Mungkin dulu dia adalah pengusaha ojek terbang. Setelah pensiun dia tinggal di Kutub Utara. Dia pasti punya bulu yang tebal banget supaya tetap hangat. Atau pemanas yang tidak membuat es mencair.

Kenapa kedua tokoh ini lebih populer dari Yesus, justru pada saat Natal? Saat dimana umat Kristiani seharusnya merayakan kelahiran Yesus? Kenapa kita mau dijajah begitu saja oleh budaya-budaya tidak jelas, yang justru tidak agamis. Malah menghilangkan makna Natal.

Memang budaya itu membuat Natal semakin semarak. Tapi apalah gunanya semarak, kalau makna Natal hilang?

Semoga artikel ini bisa membuat kita introspeksi diri. Jangan biarkan budaya yang tidak jelas itu membuat kita lupa mengapa kita merayakan Natal. Silakan menyemarakkan Natal dengan budaya itu SETELAH lo menyemarakkan kelahiran Yesus.

Artikel ini emang gak nyambung. Berlari ke sana kemari. Tanpa arah yang jelas. haha. Biar sajalah.

Akhirnya, gua cuma bilang

SELAMAT NATAL



11 comments:

  1. Saya juga termasuk orang yang gak mau merusak toleransi dengan tidak mengucap selamat natal, toh keimanan tidak menjadi rusak, karena penilaian keimanan itu urusan Tuhan...

    selamat natal dan semoga berlimpah keberkahan :)

    ReplyDelete
  2. Selamat Natal Arman,,,, kirim pohon natalnya yaa

    ReplyDelete
  3. Masih banyak orang-orang non toleran untuk hal ini sob. Gue turut prihatin. Padahal dalam agama gue, Nabi mengajarkan sifat toleransi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget, harus saling menghargai aja:D, coba semua orang bisa saling toleransi pasti ga bakal ada teroris

      Delete
    2. toleransi sudah berkurang jauh di negara ini bro

      Delete

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan