Wednesday, August 28, 2013

Terus-terusan di dunia maya, haruskah?






Seberapa banyak status, foto, dan lain sebagainya yang tiap hari terupdate melalui berbagai macam social media? Pasti banyak banget tuh. Zaman memang terus berkembang, mengenalkan hal-hal yang baru kepada kita setiap hari. Tapi sadar gak sih, semua itu lama-kelamaan membuat kita jadi semakin individualis.

Seberapa sering kita mengacuhkan perkataan orangtua karena terlalu sibuk dengan gadget, asik main twitter atau fb. Kita hidup di dunia kita sendiri. Dimana kalau ada apa-apa terjadi sama kita sekecil apapun, pasti deh langsung update ke berbagai social media. Bahkan kalau sakit aja,ngetwit dulu “ kenapa sih harus kena demam?. Atau update status “ jari ku keiris pisau silet nih, perih banget”. Jarinya perih tapi kok bisa update status ya?. Nah, setelah selesai dengan urusan dunia maya, barulah kita beralih ke dunia nyata, entah ke dokter, puskesmas, dan segala macam.

Aneh memang, semua yang diciptakan untuk kita bersosialisasi malah membuat kita menjadi anti-sosial. Kalau mau curhat ke twitter, pedekate di twitter, jualan di fb, semuanya serba dunia maya. Kita terjebak loh, gak bisa membedakan mana yang dunia nyata dan mana dunia maya. Ada orang banyak banget kawannya di fb, follower twitternya ribuan, twitnya kocak-kocak. Tapi di dunia nyata, nothing. Dia gak berani bergaul, gak berani bersosialisasi, cenderung anti-sosial malah,  menjadikan dunia maya sebagai pelarian, sekedar kamuflase kejiwaan. 

Apa gunanya teknologi kalau hanya menjadikan kita tidak jauh beda dengan kelakuan babi? Yaitu kalau jalan selalu nunduk. Kita keasyikan memainkan gadget, kalau jalan gak pake liat kanan kiri lagi, langsung terobos aja, tentu saja sambil nunduk. Teknologi seharusnya menjadikan kita manusia yang benar-benar manusia. Bukan manusia setengah hewan. Badan manusia, kelakuan macam hewan.

Kalau di twitter atau fb, banyak juga tuh akun-akun alay sok frontal. Make kata-kata kasar, make huruf kapital semua? Tapi pas di dunia nyata, eh malah melempem. Ngomong aja gagap. Haduhhh. Sok-sok marah gak jelas, padahal topik yang dibahas gak jauh-jauh dari urusan asmara. Gua pernah baca, kalau amarah adalah emosi yang ditumpahkan oleh pemiliknya karena tidak bisa menerima kenyataan dan kebenaran. Kalau lo udah marah-marah, emang semuanya bakal lebih baik? Keadaan jadi memihak sama lo? Gak bakal. Lo cuma bakalan jadi korban amarah lo sendiri. Yang stress kan elo, stress bisa memicu stroke, penyakit jantung dan masih banyak penyakit lainnya. Ingat gak pepatah “ marah itu bikin cepat tua”. Mau lo cepet tua? Masih muda aja jomblo, apalagi kalau uda tua?.

Supaya apa coba sok frontal di dunia maya? Pengen eksis? Biar diakui kalau lo itu hebat? Mewakili perasaan followers lo? Kalau cuma ngetwit doang pake huruf kapital mah anak umur 1 tahun juga bisa. Atau jangan-jangan yang buat akun alay sok frontal ini baru berusia 1 tahun ya? Pantes deh, pemikirannya jangka pendek.

Dunia maya dan segala gemerlapnya juga menjadikan rasa kekeluargaan kita membeku. Berapa banyak keluarga jaman sekarang yang jika makan malam penuh canda tawa,heboh dengan segala obrolan mengenai kegiatan seharian?. Bukan asik masing-masing dengan gadgetnya. Padahal di hadapannya ada orang asli, tapi lebih memilih dunia maya. Seharusnya pemerintah membuat peraturan baru, kalau lagi makan bersama keluarga, ada tulisan no gadget allowed. Jadi kehangatan dalam keluarga itu tetap terjalin.

 Apalagi kalau orangtuanya sibuk, makin gak ada waktu deh sama anaknya. Pergi pagi, pulang malam. Pergi pas anak belum bangun, dan pulang pas anak udah tidur. Masih mending sih, kalau akhir pekan dihabisin untuk keluarga, lah kalau masih sibuk dengan urusan kerjaan juga gimana? Deadline yang menumpuk, harus dikumpul hari senin. Orangtua jadi stress, anak jadi korban. Gak heran kan anak jaman sekarang suka ngelawan orangtua, kalau ngomong juga gak ada rasa hormat, seenak udelnya aja. 

Merasa dicuekin oleh orangtua, anak akhirnya mencari kehidupan lain. Mencoba hal-hal baru yang bertentangan dengan norma, sekedar balas dendam, atau ingin mencuri perhatian dari orangtuanya. Dari yang dulunya alim, sekarang malah jadi pengedar narkoba. Apa anak harus terjerumus ke hal gak bener dulu, baru orangtua ngeh? Mata hati terbuka, bahwa kebahagiaan itu gak sekedar materi?. Yang datang terlambat itu biasanya gak bagus, terlambat ke sekolah, terlambat ngangkat jemuran, terlambat datang bulan, dan termasuk penyesalan yang selalu datang terlambat.

Kalau dulu, anak tuh takut banget kalau orangtua lagi ngomel. Gak berani natap. Hanya nunduk aja sambil mainin jempol kaki di ubin. Trus ke kamar nangis. Malamnya pasti ayah atau ibunya bujuk ke kamar, dan damai deh. Trus pelukan. Asli, ini momen indah banget, pasti lo kenang seumur hidup.

Tapi kalau sekarang gua gak yakin deh. Anak-anak jaman sekarang orangtuanya marah-marah dia malah asik twitteran, asik chattingan. Atau dia bales ngomel ma orangtuanya, masuk ke kamar, banting pintu, dan mulai update status “ dih, ortu gua kolot banget sih. Gak pengertian”.

Terasa kan bedanya? Wibawa orangtua kayaknya udah gak ada lagi. Orangtua sekarang terlalu lembek sama anaknya. Bukan maksud gua harus main pukul ya, masih banyak hukuman lain yang bisa bikin jera. Stop uang saku kek, gak boleh main gadget selama sebulan. Banyak deh pokoknya. Pinter-pinternya orangtua aja, asal gak menjadi kekerasan terhadap anak. 

Sekarang juga semakin sedikit keluarga yang menerapkan kebiasaan untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan PR dari sekolah ya. Tapi bener-bener pekerjaan rumah, kayak nyapu, nyuci piring, ngepel. Ada sih ngerjainnya, tapi gak tiap hari, mungkin pas pembantu lagi pulang kampung pas Hari Raya, atau bantu pekerjaan rumah pas hari minggu doang.
Karena rata-rata uda make pembantu semua, jadi lebih suka teriak “ bibii, ambilin minum gue dong!”
atau “Ineeemmm, sepatu gua mana? Cariin cepet!!!”

Yaelah, padahal lo bisa ngerjain sendiri kan? Kalau cuma hal remeh, ya lo lakuin aja dong sendiri. Pembantu emang dibayar, tapi lo juga jangan jadi manja. Emang seumur hidup lo bakalan punya pembantu terus? Kalau tiba-tiba lo kere dan malah jadi pembantu gimana? Terkejut batin kan lo, karna gak terbiasa.

Gua gak mau ngelarang semua bentuk ekspresi dari lo, itu hak lo juga. Gua cuma prihatin dengan sikap remaja sekarang. Hidup di negara yang baru 15 tahun mengecap demokrasi, menjadikan kita labil berekspresi. Kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Lebih suka tawuran daripada berteman, milih geng motor, daripada kelompok belajar. 

Gua gak mau sok suci, gua bukan sok dewasa, karena gua juga cuma manusia biasa. Tidak luput dari kesalahan. Hanya sekedar ingin berbagi pemikiran dengan kalian semua yang sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang lebih baik di dunia nyata.

Kalau ada yang mengganjal di pikiran lo, silakan tumpahkan di kolom komentar ya. Tentu saja dengan bahasa yang baik. Sekian dulu artikel dari gua. Salam hangat selalu.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan