Saturday, July 20, 2013

Mirisnya Melihat Fans Timnas








Selama bulan Juni dan Juli, sepakbola Indonesia riuh dengan datangnya tim-tim besar dari liga Inggris. Setelah kedatangan timnas Belanda,menyusul  Arsenal, Liverpool dan Chelsea. Rasanya sangat luar biasa menyaksikan pemain dengan kualitas kelas dunia menjajal kemampuan pemain timnas. Ini tentunya bisa menjadi latihan yang akan meningkatkan kualitas timnas kita.

Nah, gua gak akan bahas mengenai pertandingan-pertandingan tersebut. Lo pasti uda pada nonton kan di TV. Gua nulis ini untuk membuka pikiran para penikmat sepakbola yang sudah berkurang rasa cinta kepada Sang Garuda. Begitu tim kesayangan datang dari Inggris sana maka berbondong-bondonglah fans tim masing-masing ke GBK. Bukan untuk mendukung Garuda, tapi untuk membela tim kesayangan masing-masing. Ironi memang.

Kalau biasanya GBK selalu merah, maka kini menjadi warna-warni. Chants Indonesia juga sepi terdengar. Kalah oleh gemuruh suara suporter yang meneriakkan nyanyian klub masing-masing. “Garuda di Dadaku” yang biasanya lantang terdengar, kini hilang. Sungguh, dimanakah semangat nasionalisme kita?. Indonesia menjadi tuan rumah,namun rakyatnya sendiri malah mendukung tim lawan. Yah, gua tau lo fans dari tim-tim tersebut, tapi mereka tidak sedang berlaga di EPL, mereka berlaga di hadapan Sang Garuda, dan lo memilih menyemangati tim-tim EPL tersebut di banding negara lo sendiri? Fakk men.

Apalagi pas gawang Indonesia dijebol dan lo ikut teriak kesenengan. Ikut merayakan gol tersebut. Padahal yang kebobolan adalah negara lo sendiri. Dimana otak lo, men. Ngehina negara lo sendiri. Lo pasti gak yakin Indonesia bisa menang kan?.  Gimana sepakbola Indonesia mau maju kalau fans nya aja pada pesimis gitu. Lo itu seharusnya ngedukung timnas. Bangga pasti rasanya jika bisa menahan imbang tim-tim besar tersebut, apalagi jika bisa sampai menang karna suntikan tenaga dari lo yang tidak henti-hentinya bergemuruh menyemangati Garuda, bukannya malah menyemangati tim lawan.

Pas lawan Belanda, Indonesia kalah 0-3. Tapi Indonesia tetep banjir pujian, terutama kipernya Kurnia Meiga. Meiga beberapa kali mementahkan usaha penyerang Belanda semacam van Persie, Robben dan Sneijder. Meiga berjibaku, “terbang” kesana kemari untuk menghalau bola. Bahkan Robin van Persie, penyerang top dari MU gagal menjebol gawang Indonesia. Bangga  menjadi orang Indonesia.

Menghadapi Arsenal, Garuda takluk 0-7. Tapi gua gak melihat itu sebagai cacat . Usaha para pemain yang ekstra keras, layak diacungi jempol.  Lo sama sekali gak pantes ngehina timnas. Macam lo bisa main lebih baik dari mereka. Kalau lo lebih baik dari mereka, seharusnya kan lo yang lagi berlaga disana. Betul kan logikanya? Jangan cuma bisa komentar aja deh.
Setelah pertandingan timnas melawan Arsenal, salah seorang kawan gua yang nobar nyeletuk gini

“ Ah, kancut. Kalah lagi. Ini Meiga kebanjiran pujian sih pas lawan Belanda. Makanya melempem gini. Uda besar kepala dia.” Omelnya sambil membanting botol minuman. Gua cuma liatin dia dengan pandangan sinis.

“Emang lo bisa main lebih baik dari Meiga? Kenapa gak lo aja jadi kiper? Jangan bisa komen aja lah.”

Habis gua bilang itu, dia hanya diam. Cemberut.

Gua gak habis pikir, kenapa kita terus menganggap remeh kemampuan timnas. Mereka memang kalah. Kita akui, kualitas timnas jauh di bawah mereka. Tapi itu gak menjadikan alasan untuk menghina timnas sendiri. Sepakbola Indonesia emang kacau. Kacau banget malah. Birokrasinya gak becus. Tapi kalau timnas yang main, mari kita merahkan senayan, Bung. Walaupun yang datang adalah tim kesayangan dari liga top Eropa. Jangan mengendurkan semangat nasionalisme hanya karena itu. Karna bagi gua sekarang, hanya sepakbola lah yang bisa menyatukan bangsa ini. Karena sepakbola adalah bahasa universal yang bisa dinikmati semua orang.


No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan