Tuesday, November 5, 2013

Bahkan Kopi Bisa Berkonspirasi 2 (cerpen)


baca cerita sebelumnya

“ Jangan sok pahlawan makanya, mas. Malu tuh jadinya” Si pelayan mencibirku setelah menerima uang ganti rugi dari cewek yang ingin kutolong.

Aku hanya memandanginya tajam, setajam silet. Untung saja dia cewek . Kalau cowok, mungkin aku udah kabur. Gak berani soalnya.

“Kamu gak apa-apa kan? Gak ada yang luka?” Kupandangi celana cewek di hadapanku. celananya jadi berwarna coklat terkena tumpahan cappucino. Hmm, jadi agak transparan gitu. Eh, kok jadi mikir jorok sih. Aku menoyor kepalaku sendiri.

“Gak apa-apa kok. Cuma basah aja.”

“Oh, ya. Kenalin. Namaku Andre.” Aku mengulurkan tangan.

“Nia.” Dia menyambut tanganku. Tangannya lembut banget.

 “Lagi nunggu teman ya?”

“Iya nih, pesawatnya delay. Jadi daripada bosan, aku kesini aja. Kamu sendiri ngapain?”

Sama, wah jangan-jangan kita jodoh. Batinku dalam hati. Tentu saja dalam hati. Mana berani aku terang-terangan mengucapkannya.

“Iya, Aku juga lagi nunggu temen. Cuma aku aja yang datangnya kecepetan. Dia baru datang sekitar 20 menit lagi.” Aku melihat jam untuk memastikan.

Dia hanya menganggukkan kepala, dan kembali asik dengan handphonenya. Situasi mulai canggung. Aku panik. Berusaha mencari bahan pembicaraan yang lain.

Kupandangi gelas kopiku lagi. Meminta bantuan.

“Cari ide lagi dong untuk ngobrol. Udah blank nih aku. Gak tau lagi mau ngomongin apa”

“ Kamu cowok bukan sih? Pikirin sendiri lah. Jangan manja.” Dia memalingkan wajahnya.

Dasar kopi sialan. Padahal ini semua gara-gara dia.

Aku berpikir sejenak. Mau ngobrolin apa lagi ya?. Kupandangi wajah Nia. Kok ada sih makhluk seindah ini?

Rambutnya yang dibiarkan tergerai, ditiup angin perlahan. Dia melepas kacamatanya. Dan menatapku. Mata kami bertemu. Dia mencondongkan wajahnya ke arahku. Dekat sekali. aku bahkan bisa merasakan napasnya. Ah, sepertinya dia tidak bisa menolak pesonaku. Sekarang dia akan menciumku. Aku memang cowok sejati. Lihat ini baik-baik kopi.

Kupejamkan mataku perlahan. Ingin menikmati momen ini.

“Andre.”

“Iya Nia.” Beberapa detik lagi bibir kami akan bertemu. Ya ampun, waktu terasa berjalan lama sekali. Tanganku mulai kedinginan. 

“Andre.”

“Iya Nia.” Aduh, cepetan dong. Aku membasahi bibirku.

“Bulu hidungmu keluar tuh.”

Deng. Antiklimaks. Buru-buru kubuka mataku. Nia masih menatapku. Senyuman lebar membingkai wajahnya. Matanya membentuk segaris tipis. Ah senyuman yang lucu. Matanya malah bersembunyi.

“Ngapain tadi merem-merem gitu”? Dia masih berani bertanya? Dasar PHP.

Aku menggaruk kepalaku. Ketombe berjatuhan.

“Gak apa-apa kok. Tadi ada badak masuk ke mata” ucapku ketus.

Dia hanya tertawa pelan. Kupandangi dia, dan ikut tertawa. Tawa kami makin keras. Gelas kopiku juga ikut tergelak. Tisu bekas pun beterbangan ke arah kami berdua.

“Mas, kalau mau ketawa lebar-lebar, jangan disini dong. Ludahnya pada muncrat nih”.

“Iya nih, buat takut aja. Itu ketawa atau menjerit. Lihat nih anak saya langsung mimisan.”

Huh, tidak bisa melihat orang lain senang. Aku mencibir ke arah mereka.

“Jalan-jalan keluar yuk.” ajakku pada Nia.

“Boleh deh. Ntar malah ditimpuk lagi, kalau kelamaan disini” sahutnya sambil terkekeh geli.

Kami berdua berjalan keluar. Tanganku terulur, hendak membuka pintu cafe.

“Woii, mas. Bayar dulu kopinya! Main kabur aja.” Ah. Itu si pelayan lagi. Dia sepertinya belum puas menerorku. Dengan teriakannya yang melengking. Semua pengunjung kembali melihatku.

Kutatap wajah Nia. Berusaha mengeluarkan semua aura ketampananku.

“Err, Nia, boleh pinjam uangnya gak?”

***

Ah. Senangnya hari ini. Jalan-jalan berdua dengan Nia. Saling mengoleskan eskrim ke wajah. Berbagi cerita mengenai kehidupan. Dan ditutup dengan menikmati senja di bangku taman, sambil memberi makan burung.

Tampaknya pdkt ku akan berjalan lancar.

Kubuka handphoneku. Melihat foto-foto kami berdua. Fotonya ketika tersenyum, dan matanya kembali bersembunyi. Fotonya yang cemberut ketika kuoleskan es krim di hidungnya. Fotonya dikelilingi merpati. Fotonya ketika menagih utangku.

Tapi, sepertinya ada yang kulupakan hari ini. Apa ya?

Eh, ada foto gelas kopiku juga ketika masih di kafe tadi. Gelas kopi yang telah berkonspirasi untuk membantu pdkt ku. Di foto, dia melambai ke arahku. Sayangnya dia harus berurusan dengan si pelayan galak.

Aku harus mengunjunginya lagi di kafe tersebut. Di bandara.

Eh, bandara?
Bandara?

“Astaga.” Aku menutup mulutku. 

Ryan !

Aku lupa menjemputnya. 



note:
kalau mau baca cerpen sebelum ini, silakan klik teks biru ini

28 comments:

  1. Bagus min cerpennya :-D bkin ktawak sore-sore.
    Ditunggu cerpen selanjutny yaa..

    ReplyDelete
  2. Akkkkkkk andai itu bener-bener nyata ya.. *oke lupakan*

    Banyak kejutannya dalam cerpen ini dan itu bikin ngakak. Terus berkaryaaaaa

    ReplyDelete
  3. aduh aku ngekek
    hehehe
    visit and follbek http://goglees.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih udah berkunjung mas.
      pasti di visit kok

      Delete
  4. Replies
    1. terimakasih mbak rani. sering sering mampir dimari ya

      Delete
  5. enak banget baru kenal mau di cium. Terlalu berharap ya xixixixi

    ReplyDelete
  6. Uwowow bagus :D ya ampun bulu hidungnya panjang amat ya sampai keluar gitu mahaha

    ReplyDelete
  7. Cowoknya pasti garang banget sampe bisa kelilipan badak gitu. Hahaha.

    Bagus cerpen-nya, gue belom bisa bikin kayak gini. Huft.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus bereskperimen mat. cerpen ini hampir dua bulan gua anggurin. ini pertama asli jelek banget.

      Delete
  8. hahaha.. udah nebak bakalan dicium.. ehh ternyata cuma ngeliat bulu hidungnya keluar haha xD
    Kerenn keren :))

    ReplyDelete
  9. kesian yang lagi nunggu di bandara :p

    ReplyDelete
  10. Bacanya uda dua hari yang lalu tapi baru sempet komentar part 2 nya sekarang ,lebih bagus part 2 nya bang ih suka , ajarin dong bikin ginian :)

    ReplyDelete
  11. kopinya ko ga di minum sama si andre(=^▽^)σ

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah kok di awal paragraf pertama. tapi cuma disesap doang sih

      Delete
  12. iya, mksudnya ga diabisin:D

    penasaran dh ama nasib si kopi yang bisa berkonspirasi.

    ReplyDelete

Berkomentarlah sebelum berkomentar itu diharamkan