BUG.
Niko jatuh tersungkur. Bibirnya mengeluarkan darah segar. “Bajingan,” umpatnya. Dia lalu bangkit dan berusaha menerjang Ryan.
Tinju dan tangkisan saling beradu. Kedua cowok itu bergulat di atas tanah. Pakaian mereka sudah lusuh dan sobek. Tapi, mereka sepertinya tidak memedulikan hal itu. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana lawannya bisa terkapar.
Tasya hanya berdiri mematung. Dia bingung akan membela yang mana. Dia juga tau tak ada gunanya memanggil bantuan. Semua murid sudah pulang. Yang tersisa hanyalah Pak Ahmad, satpam sekolah yang sudah tua.
Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak... “CUKUUUPP !!”
***
“Eh liat tuh. Anak baru kayaknya.”
“Anjir. Cakep abis. Blasteran nih.”
“Blasteran Jepang-Belanda pasti.”
“Lah. Penjajah dong. Tapi gapapa. Rela deh hati gua dijajah sama dia.”
“Tinggi, cakep, montok lagi. Anjir.”
“Semoga dia masuk ke kelas kita. Aminnn aminnn.”
“Pssstt. Sombong amat, Neng. Lihat kita dong.”
Bisik-bisik dan godaan terus terdengar di sepanjang lorong. Tasya berjalan cepat-cepat sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak terlalu suka berada di keramaian. Apalagi dibicarakan seperti sekarang.
***
“Anak-anak. Perkenalkan, ini adalah Tasya Lutfiah. Murid pindahan dari Medan. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.” Pak Dion lalu menunjuk bangku kedua dari barisan ketiga. “Kamu duduk disitu ya !”
Tasya mengangguk pelan. Lalu beranjak ke bangkunya. Dia memandang sekeliling dan tersenyum ramah. Anak-anak cowok kebanyakan langsung bertingkah bodoh begitu terkena senyumnya. Ada yang nari saman, ada yang berlagak seperti Agung Hercules, ada juga yang mesem-mesem sambil tangannya maju mundur di bawah meja.
Yang cewek berlagak bloon dan pura-pura gak liat. Mungkin merasa tersaingi.
***
Bel istirahat berbunyi. Niko melihat Ryan sedang ngobrol dengan si anak baru. Sialan. Bagian gua diembat.
Dengan langkah-langkah panjang, Niko menginterupsi obrolan mereka.
“Hai Tasya. Kenalin, gua Niko. Cowok paling ganteng di kelas ini.” Niko menyisir rambutnya ke belakang. Berusaha terlihat maskulin. Meski lebih mirip Mas Kuli.
Tasya tersenyum. “Tasya. Salam kenal juga.”
“Ke kantin yuk, Sya. Disini hawanya sumpek.” Tanpa babibu Ryan menarik tangan Tasya. Setengah bingung, Tasya ikut berdiri mengikuti Ryan. Niko yang belum puas ngegombal, ikut-ikutan menarik tangan Tasya yang satunya. Alhasil, Tasya sudah seperti tali tambang. Ditarik kesana kemari.
“Aduh..sakit,” jerit Tasya. Dia merasa kedua tangannya memanjang satu meter.
Niko buru-buru melepas tarikannya. Tasya malah terpental ke pelukan Ryan. Mereka berdua terjatuh. Ryan mendekap Tasya. Berusaha melindunginya. Pipi Tasya bersemu merah.
“Heh kampret. Elo ngambil kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar mesum.” Tiba-tiba tinju Niko sudah mendarat di rahang Ryan. Tasya menjerit karena kaget. Cewek-cewek lain histeris. Yang cowok berusaha memisahkan Niko dan Ryan.
Ryan memandang Tasya sekilas lalu menatap Niko dengan dingin. Dikebaskannya genggaman teman-temannya yang memegangi dia. Dengan santai didekatinya Niko dan berbisik di telinganya, “Urusan ini belum selesai. Kita lanjutkan di halaman belakang sepulang sekolah.” Lalu dia tersenyum kepada Tasya dan melenggang santai keluar kelas.
***
Tasya merasa tidak enak. Dia menganggap perkelahian tadi disebabkan oleh dirinya. Maka dia pun menguntit mereka berdua ke lapangan sepulang sekolah.
Samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka.
“Kalau gua bisa ngalahin lo, Tasya jadi milik gua. Jangan ikut campur lagi.”
“Deal. Dan hal sebaliknya berlaku untuk elu.”
“Deal.”
Ryan dan Niko lalu berkelahi dengan seru. Jurus-jurus andalan seperti “tokek menapak angin” dan “mama minta pulsa” dikeluarkan. Mereka berdua memang jago beladiri. Saking jagonya, mereka diikutkan dalam olimpiade baca puisi.
HIATT.... CIATT... CIAT... BAG..BUG...
Tasya cuma bisa menyaksikan. Dia bingung kenapa mereka bertingkah seperti pemain sinetron. Mereka bahkan gak bertanya apakah Tasya menyukai mereka atau tidak.
Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak...
“CUKUUUPP !!”
Niko dan Ryan membeku. Pukulan mereka kaku di udara. Nyaris mengenai biji mata lawan masing-masing.
“Kenapa kalian saling berkelahi demi memperebutkan aku? Kalian bahkan baru melihatku hari ini.” Tasya bertanya dengan bahu yang naik turun. Dia terisak-isak.
“Aku sudah menyukaimu sejak pertama melihatmu, Sya,” ucap Ryan lembut. “Aku yakin kamu diciptakan untukku.”
“Behh. Omong kosong. Jelas-jelas dia diciptakan untukku. Dia adalah tulang rusuk yang selama ini aku cari.” Niko menyanggah.
“Tulang rusuk lo udah lama hilang digondol anjing,” sindir Ryan.
Tasya menatap mereka berdua tidak percaya. “Kalian egois ! Kalian bahkan tidak peduli apakah aku menyukai kalian atau tidak !”
Niko dan Ryan diam membatu sambil menatap satu sama lain.
“Aku yakin, kalian bahkan tidak bisa menerima aku apa adanya.”
“AKU BISA.” Niko mengacung cepat-cepat. Dia tersenyum pongah kepada Ryan.
“Aku juga akan menerima kamu apa adanya, Sya.” Ryan tak mau kalah.
Tasya diam sambil menunduk. Dia berbisik pelan, “Tidak..kalian tidak bisa.”
Ryan maju ke arah Tasya. Lalu memeluknya. “Yakinlah, Sya. I love you just the way you are.”
Tasya menatap mata Ryan lekat-lekat. Matanya berbinar-binar. Ada secercah harapan disitu.
“Benarkah? Bahkan kalau aku seorang transgender?”
Niko dan Ryan terkejut. “A-apa maksudmu, Sya?” tanya Ryan.
“Kamu pasti becanda kan?” tambah Niko.
Tasya menggeleng pelan.
“Aku bisa membuktikannya pada kalian.”
Dia membuka kancing bajunya, sehingga tinggal bra. Bra yang menutupi segumpalan daging.
Napas Ryan dan Niko memburu. Ini sudah seperti pertunjukan striptease, pikir mereka. Celana mereka mendadak sempit. Ada yang berontak.
Tasya membuka roknya, menyisakan celana dalam.
Gleg.
Niko dan Ryan menelan ludah. Berani banget ni anak setengah telanjang di lapangan seperti ini.
Namun ada yang aneh. Celana dalam tersebut terlihat membalut sesuatu yang menonjol. Menonjol seperti...
Niko dan Ryan memandang satu sama lain. Mereka mulai saling mendorong dan mengatakan,
“Tasya untuk lo aja deh. Terima dia apa adanya dong.” “Untuk lo aja, dia kan tulang rusuk lo.”
Mereka terus melakukan itu sambil berjalan. Akhirnya mereka menghilang di ujung lapangan. Meninggalkan Tasya sendirian.
Tasya menyunggingkan senyum tipis sambil memakai pakainnya kembali.
Ahh. Cinta. Begitu mudah diucapkan. Begitu mudah mengatakan penerimaan apa adanya. Namun, kebanyakan dusta.
Ada untungnya juga aku meminjam pisang ini dari kantin tadi.
Hari-hariku bakal lebih damai setelah ini.
-Tamat-
Rada absurd ya ceritanya? Hahaha. Udah lama nih gak bikin fiksi. Semoga kalian suka. Kritik dan saran sangat dinantikan. Supaya aku bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Pesan moral dari cerpen ini, jangan terlalu cepat mengatakan kamu bisa menerima seseorang apa adanya. Bisa jadi itu semua akan berubah ketika kamu mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Sekian untuk hari ini.
Salam Asal.