Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, October 5, 2016

[CERPEN] Tujuan Hidup



“Pernah gak, sih kamu berpikir tentang kehidupan?”

Aku membuka mata malas-malasan. Pad sedang menatap langit bersalju dengan roman wajah sendu. Ini anak kerjaannya galau mulu. Kena virus remaja kekinian kali ya.

 “Nggak juga. Kenapa? Kamu mau sok berpikir seperti filsuf lagi?” Aku menguap lebar-lebar.
Lanjut Baca Terus >>>

Saturday, May 28, 2016

[Cerpen] Invasi Makhluk Asing

Aku melirik sekilas kepada Ibu.

“Apakah mereka akan keluar pagi ini?”

Ibu menghentikan kegiatan mengasah parangnya. Lalu memandangku lurus-lurus, “Entahlah, Nak. Kita tunggu saja.” Kemudian, dia kembali asik mengasah parang.
Srengg..srengg..srengg. Suara parang yang beradu dengan batu asahan membuatku ngilu. Rasa ngilu seperti yang kamu rasakan ketika ada yang mencakar papan tulis dengan kuku.

Ibu mengecek ketajaman parang, membilasnya dengan air, lalu menempelkannya di jidat sambil mengucap doa yang tidak jelas bunyinya. Apakah seserius ini kondisi yang kami hadapi?


Angin pagi menggelitik tubuhku. Membawa serta aroma-aroma alam, termasuk beberapa aroma busuk. Aku bergidik. Membetulkan posisi sarung di badan.

“Apakah Ibu pernah melawan mereka sebelumnya?”

“Ya, tentu. Ketika ibu seumuranmu, nenek melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan. Sambil mengunyah sirih, ‘Untuk mengusir dingin’, katanya.”

Kepalaku tiba-tiba penuh dengan berbagai adegan menyeramkan. Membayangkan ibu yang berada di posisiku sekarang. Setengah telanjang. Kuusir jauh-jauh pikiran itu.

“Apakah mereka benar-benar menyeramkan?”

Ibu tampaknya tidak terganggu dengan pertanyaanku yang datang terus menerus.

“Ya. Mereka sangat menyeramkan. Wajah dan bokong mereka benar-benar mirip. Kamu tidak akan tau apa bedanya. Kulit mereka dipenuhi lendir dan mereka selalu menggeliat menjijikkan. Bahkan, ada mitos yang mengatakan bahwa kau harus membelah kepala mereka. Jika tidak, mereka akan kembali hidup.” Ibu mempraktekkan proses pembelahan kepala kepada sebuah ranting malang yang ada di dekatnya.

Kenapa manusia suka sekali menjadikan alam sebagai bahan percobaan?

Rasa bosan mulai menggelayut di kepalaku. Aku berkali-kali menguap. Ditambah kakiku yang kesemutan karena terlalu lama jongkok. Ibu sekarang asik memainkan semprotan nyamuk. ‘Senjata tambahan’, katanya.

Parang dan semprotan nyamuk. Aku tidak akan heran kalau dari dalam daster ibu tiba-tiba keluar granat tangan.

“Apakah kita bisa melakukannya  besok atau hari lain?” Aku mencoba bernegosiasi. Rasanya aku masih belum siap untuk aktivitas seperti ini.

“Tidak. Keadaan akan memburuk jika kita terus menunda. Keadaanmu lebih tepatnya. Lagipula, ibu sudah menambahkan racun di sekitar sarangnya semalam. Dia pasti keluar hari ini.”

Tiba-tiba aku merasakan kehadirannya. Seperti Spiderman yang bisa merasakan hawa jahat dengan inderanya. Aku merasakan mereka perlahan-lahan menggeliat dari lubang yang selama ini dianggapnya rumah. Semua bulu di tubuhku meremang. Gemulai badannya santai bak Putri Keraton. Menikmati pemandangan yang ada di sekitar.

“Ibu..” erangku lemah. “Dia datang!”


“Tahan sebentar. Berusahalah lebih keras.” Ibu menggengam tanganku. “Sebentar lagi dia akan keluar. Ibu bisa melihatnya.”

Aku mengatur pernapasan. Berusaha untuk tidak melihat ke bawah. Menjaga supaya pandangan mataku tidak bertumbukan dengan mata makhluk tersebut. Aku menengadah. Formasi bintang tiba-tiba berubah menjadi sebuah naga raksasa yang siap menyemburkan api.

Ibu mengeluarkan capit dari dalam dasternya. Hmm..aku tidak melihat capit itu tadi. Kenapa bisa ada dis...

“Arrghhhhhhhh...”

Aku mengerang keras ketika ibu menarik makhluk itu dari tubuhku. “Tahan, Nak. Teruslah mendorong.” Dengan beringas, ibu menarik tubuh makhluk itu. Kasar seperti petugas Satpol PP yang mengusir pedagang kaki lima.

Ingusku merembes turun, jatuh ke sela-sela bibirku. Aku menarik napas panjang, dan dengan sentakan terakhir, aku mendorong makhluk itu keluar. 
HUAAHH...

Rasa lega membanjir di dadaku. Di hadapanku, ibu sedang bergulat dengan makhluk tersebut. Gayanya seperti Triple H yang bersiap melancarkan jurus pedigree. Kamu tidak tau siapa itu Triple H? Sayang sekali.

TAKK. PUKK. PUKK. CROT..

Kepala makhluk tersebut terbelah karena parang Ibu. Kurang puas, Ibu menyemprotnya dengan racun dan mencincang seluruh tubuhnya. Dia mengambil bensin dan korek api -kamu pasti tau ini keluar darimana- dan membakar tubuh makhluk tersebut. Wow. Aku tidak pernah melihat Ibu sebuas ini sebelumnya.
Siapa sangka seekor cacing gelang bisa mengeluarkan sisi terliar Ibu.

“Nah. Sudah selesai.” Ibu menyeka peluh di kening dan lehernya. “Semoga kamu tidak cacingan lagi. Lain kali, pakai sendal kemanapun kamu pergi. Jangan makan sembarangan. Tidak usah lagi berenang di parit depan rumah Haji Sanusi.

Aku hanya menggangguk mengiyakan. Buru-buru cebok, mengenakan sendal dan berlari ke arah rumah. Dari rumah, aku melihat ibu membersihkan bekas-bekas pertempuran tadi. Ibu menimbunnya dengan tanah, membereskan peralatan perang, lalu bersenandung dalam perjalanan ke rumah.

***
Setelah Ibu Zubaidah dan Ase masuk ke dalam rumah, tubuh cacing itu perlahan menggeliat kembali. Bergerak-gerak kesakitan karena bokongnya baru saja dicincang oleh seorang manusia. Lalu masuk ke dalam tanah, mempersiapkan rencana balas dendam.

-TAMAT

Setelah beberapa windu terlewati, akhirnya aku menulis cerpen lagi. Sebenarnya cerpen ini udah lama banget mendekam di folder “Draft”. Tapi, tidak kunjung dipublish. Aku juga udah lama banget gak bikin artikel lagi. Mulai merasakan nikmatnya menjadi blogger murtad. Bikin ketagihan ternyata.

Semoga aku bisa kembali bercerita di blog ini. Oh ya, cerpen ini terinspirasi dari kisahku ketika kecil. Aku pernah pup, dan yang keluar itu cacing. Menyeramkan banget. Aku sampe nangis-nangis ketika itu. Baru kali ini pup ku menjelma menjadi makhluk hidup.

Setelah terkenang akan kejadian tersebut, aku pun menuliskan cerpen ini. Kamu juga pernah pup dan yang keluar cacing? Yuk, ceritakan di kolom komentar. Segala kritik dan saran terhadap cerpen ini juga sangat ditunggu.

Sekian untuk kali ini.

Salam Asal



Lanjut Baca Terus >>>

Thursday, July 9, 2015

[CERPEN] Cinta Apa Adanya

BUG.

Niko jatuh tersungkur. Bibirnya mengeluarkan darah segar. “Bajingan,” umpatnya. Dia lalu bangkit dan berusaha menerjang Ryan.

Tinju dan tangkisan saling beradu. Kedua cowok itu bergulat di atas tanah. Pakaian mereka sudah lusuh dan sobek. Tapi, mereka sepertinya tidak memedulikan hal itu. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana lawannya bisa terkapar.

Tasya hanya berdiri mematung. Dia bingung akan membela yang mana. Dia juga tau tak ada gunanya memanggil bantuan. Semua murid sudah pulang. Yang tersisa hanyalah Pak Ahmad, satpam sekolah yang sudah tua.

Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak... “CUKUUUPP !!”

***
“Eh liat tuh. Anak baru kayaknya.”

“Anjir. Cakep abis. Blasteran nih.”

“Blasteran Jepang-Belanda pasti.”

“Lah. Penjajah dong. Tapi gapapa. Rela deh hati gua dijajah sama dia.”

“Tinggi, cakep, montok lagi. Anjir.”

“Semoga dia masuk ke kelas kita. Aminnn aminnn.”

“Pssstt. Sombong amat, Neng. Lihat kita dong.”

Bisik-bisik dan godaan terus terdengar di sepanjang lorong. Tasya berjalan cepat-cepat sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak terlalu suka berada di keramaian. Apalagi dibicarakan seperti sekarang.

***

“Anak-anak. Perkenalkan, ini adalah Tasya Lutfiah. Murid pindahan dari Medan. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.” Pak Dion lalu menunjuk bangku kedua dari barisan ketiga. “Kamu duduk disitu ya !”

Tasya mengangguk pelan. Lalu beranjak ke bangkunya. Dia memandang sekeliling dan tersenyum ramah. Anak-anak cowok kebanyakan langsung bertingkah bodoh begitu terkena senyumnya. Ada yang nari saman, ada yang berlagak seperti Agung Hercules, ada juga yang mesem-mesem sambil tangannya maju mundur di bawah meja.

Yang cewek berlagak bloon dan pura-pura gak liat. Mungkin merasa tersaingi.

***

Bel istirahat berbunyi. Niko melihat Ryan sedang ngobrol dengan si anak baru. Sialan. Bagian gua diembat.

Dengan langkah-langkah panjang, Niko menginterupsi obrolan mereka.

“Hai Tasya. Kenalin, gua Niko. Cowok paling ganteng di kelas ini.” Niko menyisir rambutnya ke belakang. Berusaha terlihat maskulin. Meski lebih mirip Mas Kuli.

Tasya tersenyum. “Tasya. Salam kenal juga.”

“Ke kantin yuk, Sya. Disini hawanya sumpek.” Tanpa babibu Ryan menarik tangan Tasya. Setengah bingung, Tasya ikut berdiri mengikuti Ryan. Niko yang belum puas ngegombal, ikut-ikutan menarik tangan Tasya yang satunya. Alhasil, Tasya sudah seperti tali tambang. Ditarik kesana kemari.

“Aduh..sakit,” jerit Tasya. Dia merasa kedua tangannya memanjang satu meter.
Niko buru-buru melepas tarikannya. Tasya malah terpental ke pelukan Ryan. Mereka berdua terjatuh. Ryan mendekap Tasya. Berusaha melindunginya. Pipi Tasya bersemu merah.

“Heh kampret. Elo ngambil kesempatan dalam kesempitan ya. Dasar mesum.” Tiba-tiba tinju Niko sudah mendarat di rahang Ryan. Tasya menjerit karena kaget. Cewek-cewek lain histeris. Yang cowok berusaha memisahkan Niko dan Ryan.

Ryan memandang Tasya sekilas lalu menatap Niko dengan dingin. Dikebaskannya genggaman teman-temannya yang memegangi dia. Dengan santai didekatinya Niko dan berbisik di telinganya, “Urusan ini belum selesai. Kita lanjutkan di halaman belakang sepulang sekolah.” Lalu dia tersenyum kepada Tasya dan melenggang santai keluar kelas.

***

Tasya merasa tidak enak. Dia menganggap perkelahian tadi disebabkan oleh dirinya. Maka dia pun menguntit mereka berdua ke lapangan sepulang sekolah.
Samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka.

“Kalau gua bisa ngalahin lo, Tasya jadi milik gua. Jangan ikut campur lagi.”

“Deal. Dan hal sebaliknya berlaku untuk elu.”

“Deal.”

Ryan dan Niko lalu berkelahi dengan seru. Jurus-jurus andalan seperti “tokek menapak angin” dan “mama minta pulsa” dikeluarkan. Mereka berdua memang jago beladiri. Saking jagonya, mereka diikutkan dalam olimpiade baca puisi.

HIATT.... CIATT... CIAT... BAG..BUG...

Tasya cuma bisa menyaksikan. Dia bingung kenapa mereka bertingkah seperti pemain sinetron. Mereka bahkan gak bertanya apakah Tasya menyukai mereka atau tidak.
Tasya mengepalkan kedua tangannya. Dengan suara yang bergetar dia berteriak... 

“CUKUUUPP !!”

Niko dan Ryan membeku. Pukulan mereka kaku di udara. Nyaris mengenai biji mata lawan masing-masing.

“Kenapa kalian saling berkelahi demi memperebutkan aku? Kalian bahkan baru melihatku hari ini.” Tasya bertanya dengan bahu yang naik turun. Dia terisak-isak.

“Aku sudah menyukaimu sejak pertama melihatmu, Sya,” ucap Ryan lembut. “Aku yakin kamu diciptakan untukku.”

“Behh. Omong kosong. Jelas-jelas dia diciptakan untukku. Dia adalah tulang rusuk yang selama ini aku cari.” Niko menyanggah.

“Tulang rusuk lo udah lama hilang digondol anjing,” sindir Ryan.

Tasya menatap mereka berdua tidak percaya. “Kalian egois ! Kalian bahkan tidak peduli apakah aku menyukai kalian atau tidak !”

Niko dan Ryan diam membatu sambil menatap satu sama lain.

“Aku yakin, kalian bahkan tidak bisa menerima aku apa adanya.”

“AKU BISA.” Niko mengacung cepat-cepat. Dia tersenyum pongah kepada Ryan.

“Aku juga akan menerima kamu apa adanya, Sya.” Ryan tak mau kalah. 

Tasya diam sambil menunduk. Dia berbisik pelan, “Tidak..kalian tidak bisa.”

Ryan maju ke arah Tasya. Lalu memeluknya. “Yakinlah, Sya. I love you just the way you are.”

Tasya menatap mata Ryan lekat-lekat. Matanya berbinar-binar. Ada secercah harapan disitu.

 “Benarkah? Bahkan kalau aku seorang transgender?”

Niko dan Ryan terkejut. “A-apa maksudmu, Sya?” tanya Ryan.

“Kamu pasti becanda kan?” tambah Niko.

Tasya menggeleng pelan.

“Aku bisa membuktikannya pada kalian.”

Dia membuka kancing bajunya, sehingga tinggal bra. Bra yang menutupi segumpalan daging.

Napas Ryan dan Niko memburu. Ini sudah seperti pertunjukan striptease, pikir mereka. Celana mereka mendadak sempit. Ada yang berontak.

Tasya membuka roknya, menyisakan celana dalam.

Gleg.

Niko dan Ryan menelan ludah. Berani banget ni anak setengah telanjang di lapangan seperti ini.

Namun ada yang aneh. Celana dalam tersebut terlihat membalut sesuatu yang menonjol. Menonjol seperti...

Niko dan Ryan memandang satu sama lain. Mereka mulai saling mendorong dan mengatakan,

 “Tasya untuk lo aja deh. Terima dia apa adanya dong.” “Untuk lo aja, dia kan tulang rusuk lo.”

Mereka terus melakukan itu sambil berjalan. Akhirnya mereka menghilang di ujung lapangan. Meninggalkan Tasya sendirian.

Tasya menyunggingkan senyum tipis sambil memakai pakainnya kembali.



Ahh. Cinta. Begitu mudah diucapkan. Begitu mudah mengatakan penerimaan apa adanya. Namun, kebanyakan dusta.

Ada untungnya juga aku meminjam pisang ini dari kantin tadi.

Hari-hariku bakal lebih damai setelah ini.

-Tamat-



Rada absurd ya ceritanya? Hahaha. Udah lama nih gak bikin fiksi. Semoga kalian suka. Kritik dan saran sangat dinantikan. Supaya aku bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Pesan moral dari cerpen ini, jangan terlalu cepat mengatakan kamu bisa menerima seseorang apa adanya. Bisa jadi itu semua akan berubah ketika kamu mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Sekian untuk hari ini.

Salam Asal.


Lanjut Baca Terus >>>

Sunday, May 3, 2015

[Cerpen] Masalah Pernikahan


BRAK !

Ryan membanting pintu mobil. Lalu, menderu menuju entah kemana. Sudah beberapa hari ini kami selalu bertengkar karena hal sepele. Padahal, sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Dia juga bertingkah sangat aneh dan kelihatan gugup jika kutanya hendak kemana.

“Sayang. Hari ini, kita ke percetakan ya? Untuk melihat model undangannya.” Ajakku dua hari yang lalu.

“Umm. Kamu bisa pergi sendiri, gak? Aku lagi ada urusan nih. Aku percaya pilihanmu, kok.” Dia memegang tanganku dengan lembut, lalu tersenyum. Maka tak ada gunanya lagi mendebat.

Aku pun pergi ke percetakan dengan rasa kesal. Untunglah aku masih punya akal sehat untuk memilih model undangan yang bagus. Tadinya, aku sempat berpikir untuk memilih model undangan untuk ulang tahun saja.

“Sayang. Kamu bisa gak nemenin aku ke penjahit jam tiga nanti? Mau ngukur badan, nih.”

Ryan bergerak-gerak gelisah. “Jam tiga, ya? Aduh, kayaknya aku gak bisa deh. Aku punya janji dengan klien.”

“Kamu gak bisa melulu. Kamu punya niat menikah gak, sih? Aku capek tau ngurus semuanya sendirian. Yang menikah itu kan kita berdua. Bukan cuma aku sendiri. Kamu selingkuh ya?” emosiku naik ke ubun-ubun.

“Eng-enggak, kok. Sayang, kamu jangan nuduh yang macam-macam dong. Aku beneran ada urusan sama klien. Lain kali aku pasti nemenin kamu, kok.”
“TERSERAH, DEH. Udah, turunin aja aku disini.” Ancamku sambil membuka pintu mobil.

“Tapi, Sayang...”

“Tapi tapi apa? udah deh, cepet turunin aku disini,” jeritku kesal.

“Yaudah, sih. Kamu tinggal turun aja. Kita kan udah sampai daritadi.”

***

Hari ini, aku memutuskan untuk membuntuti Ryan. Kalau dia ketangkap basah sedang berselingkuh, maka akan kucincang habis tubuhnya. Hih. Selingkuhannya juga bakal kutembak pake rudal.

Aku telah membuntuti Ryan sejak dia mengantarku ke kantor tadi. Sudah hampir tiga puluh menit. Aku mulai takut kalau dia memang mau bertemu klien.

Mobil Ryan berhenti di sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah ini kecil, mungkin hanya berukuran 10x15 meter. Seorang anak berlari-lari di halaman. Mengejar kucing. Ketika Ryan turun, anak tersebut langsung menghambur ke pelukannya. Seorang bapak-bapak berumur, menyambutnya dengan penuh sukacita. Di balik jendela, seorang gadis mengintip malu-malu.

Mungkinkah?

Mataku terasa panas. Tapi kucoba untuk mencari tahu lebih lanjut. Sebuah plang terpasang di dinding. Tulisannya tidak terlalu jelas. Mungkin pemberitahuan kalau rumah ini akan dijual.

Diam-diam aku memasuki rumah ini. Berjingkat-jingkat bagai pencuri kelas teri. Di dekat pintu masuk, ada sebuah kamar. Pintunya tidak ditutup sepenuhnya. Terdengar suara jeritan dan lenguhan dari dalam sana.

Jantungku berdegup tidak karuan. Kakiku gemetar. Banjir air mata pun tak dapat kubendung lagi.

Teganya dirimu, Ryan.

Kubuka pintu tersebut dengan sekali sentak. Pemandangan di dalam sana mengejutkanku.

“RYAAAANNNNN”

Di dalam sana, Ryan sedang telanjang bulat, dan bapak-bapak tadi memegangi daerah selangkangannya. Apa maksud dari semua ini?

“Nita? Apa yang kamu lakukan disini?” Buru-buru Ryan mengambil handuk untuk menutupi daerah bawahnya.

Aku tak bisa berkata-kata. Tak kusangka kalau selama ini Ryan...

“Sayang. Ini tidak seperti yang kamu duga. Aku bisa jelasin, kok.”

Aku berlari keluar dengan penuh air mata. Semua pengorbanan selama ini. Semua pengeluaran untuk pernikahan ini. Semuanya sia-sia. Sialan kau, Ryan.

Ryan mencengkeram lenganku di teras. “Nita ! Kamu dengerin aku dulu.”

“Apalagi yang perlu dijelaskan, hah? Kamu masih kurang puas menyakiti aku?”

“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku normal. Seratus persen lelaki tulen.”

“Pemandangan di dalam sana berkata sebaliknya, Ryan.”

Ryan bergerak-gerak gelisah. “Aku akan mengaku sesuatu. Tapi kamu jangan marah.”
Aku cuma diam mematung.

“Oke. Hmm. Jadi, sebenarnya tempat ini adalah... uh, bagaimana menjelaskannya ya.”

“JANGAN BERTELE-TELE, RYAN!”

“Oke..oke.. Sebenarnya tempat ini adalah...umm... Tempat ini adalah tempat untuk... janji jangan marah atau tertawa... Tempat ini adalah tempat untuk... Membesarkan alat vital.”

Butuh waktu bagiku untuk mencerna perkataannya. “J-jadi..”

“Ya, sebenarnya aku sedang membesarkan alat vital. Aku ingin menjadi lelaki yang bisa memberi kepuasan untukmu di ranjang.” Ryan menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakin tidak gatal.

Aku mengintip dari sela-sela handuk. Lalu mengerling nakal.

Well. Sepertinya kita harus mencobanya nanti malam, Sayang.”


-Tamat-

Nah, bagaimana menurut kalian cerpen satu ini? Kuharap twistnya terasa. Soalnya aku mulai merasa bodoh sekali dalam membuat cerpen akhir-akhir ini. Ada yang pernah melakukan hal ini? Yuk cerita di kolom komentar. Kritik dan saran sangat ditunggu.

Oh ya, jangan lupa juga share cerpen ini di media sosial kamu. Tombol share ada di kiri bawah postingan.

Sekian untuk hari ini.

Salam Asal.


Lanjut Baca Terus >>>

Friday, April 3, 2015

[FF] Ketika Bingung Melanda



“Daahh...Sayang. Selamat tidur. Mimpi indah ya.”
“Iya...Sayang. Kamu juga mimpi indah, ya. Love you.”
“Love you too.”

Aku menutup percakapan dengan pacar. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi. Ngantuk berat. Untunglah si pacar bisa mengerti. Dia tidak marah-marah kalau aku tinggal tidur. Gak seperti cewek-cewek lain.

Smartphone kuletakkan di samping bantal. Airplane Mode kuaktifkan. Takut akan bahaya radiasi, yang begitu banyak kubaca di artikel kesehatan.

Aku menepuk-nepuk bantal. Berharap, dengan demikian bantalku akan sedikit lebih empuk. Aroma bantal mulai menggodaku. Begitu kepala menyentuh bantal, kaki memeluk guling, aku langsung tertidur. Berlayar menuju alam mimpi.

***
Uuuaahhh. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mengumpulkan nyawa. Berusaha memulihkan kesadaran. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada jam dinding.

Pukul 08.30.

KAMPRET

Telat ke kampus.

Kesadaranku pulih seketika. Tubuhku dibanjiri adrenalin. Kampret...kampret... bisa kena usir lagi nih dari kelas. Mana dosennya killer lagi.

Aku mandi secepat kilat. Aku mencampur sabun ke dalam bak mandi. Lebih efektif dan efisien. Sambil mengguyur badan, aku menggosok gigi. Benar-benar multi tasking.

Kurang dari 10 menit, aku sudah tampil necis di depan kaca. Kemeja lengan pendek, jeans yang agak belel. Tak lupa parfum kusemprotkan ke pergelangan tangan dan leher.

“Wiihhh. Ganteng kali kau, Yan. Mau kemana?”

Rafi, teman kosku, tiba-tiba muncul di balik pintu.

“Mau ke kampus lah. Kemana lagi.” Aku mengambil kunci motor di dekat tas. Bersiap berangkat.

“Hah. Ke kampus? Sakit kau ya? Ini kan jam setengah sembilan malam. Kau kan kuliah pagi. Lagian, ini hari libur. Paok.”

Aku buru-buru mengecek ke luar kosan. Langit hitam menyapa. Bulan tersenyum pongah.

Aku terpaku. Bingung. Mencoba mengumpulkan ingatan.

Kampret. Aku kan tadi tidur siang. Bukan tidur malam.


#memfiksikan kali ini temanya "BINGUNG". Kalian bingung? Sama. Aku juga bingung. Kita bingung. Hidup bingung. Kebanyakan baca bingung, membuat aku bingung arti bingung itu apa sih? Bingung, kan? hahaha

FF ini terinspirasi dari kejadian yang kualami hari ini. Dan ini sebenarnya cukup sering juga kualami. Kalian sering ngalamin juga, gak? Cerita ya di kolom komentar. 

Kritik dan saran untuk FF ini juga sangat diharapkan. Jangan lupa juga untuk nge-share artikel ini di media sosial kamu, supaya temen kamu yang lain bisa baca.

Sekian

Salam Asal







Lanjut Baca Terus >>>

Monday, March 30, 2015

Kangen Ayah



Ahhhhh. Aku merenggangkan tangan dan menghirup napas dalam-dalam. Aku selalu menyukai tempat ini. Sejuk dan teduh. Dihiasi gundukan batu-batu yang diatur dalam formasi sedemikian rupa. Pernah terlintas dalam benakku, untuk menemui Pak Walikota dan mengusulkan kepadanya agar menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata. Tapi, dia sepertinya tidak ada waktu untuk hal remeh seperti itu.

Angin bertiup sepoi. Memainkan rambutku. Menyentuh lembut daun-daun. Mengalunkan nada-nada riang. Ditingkahi dengan cericip burung. Bagaikan ada seorang konduktor ahli sedang memainkan komposisi nada.

“Hei, Ryan. Mengunjungi ayahmu?” tanya seorang ibu yang sedang membersihkan rumput.

Aku mengangguk dengan semangat. “Ya. Aku sudah tak sabar bertemu dengannya. Kami akan bermain seharian penuh. Seperti biasa.”

Ibu tersebut tersenyum. Tapi, manik matanya bergetar. Ada rona lain disitu. Selalu begitu.

Ibu itu menepuk kedua tangannya. Membersihkannya dari sisa tanah. Tersenyum kepadaku. Dan  berjalan keluar dengan agak tergesa-gesa.

13 Februari.

Ini adalah jadwal tetapku untuk mengunjungi ayah. Hari yang selalu kunanti-nantikan.
Aku ingat ketika mengunjungi ayah setahun yang lalu. Jalanan mendadak sepi. Tidak ada anak-anak kecil yang biasa bermain bola di halaman rumah. Di pasar, semua dagangan ditinggal begitu saja.

Tapi aku tidak peduli. Aku hanya menggelayut di lengan ayahku yang kekar, saling melempar canda dan tawa. Namun, pernah sekali aku bertanya tentang hal ini kepada ayah.
“Yah. Kenapa setiap aku mengunjungi ayah dan kita berjalan-jalan di kota, jalanan selalu kosong?”

Ayah memberi senyum bijak. “Ryan. Mungkin kamu tidak tau, betapa diseganinya ayah di kota ini. Mereka menghargai perjumpaan kita yang setahun sekali. Jadi, jalanan, pasar, dan pusat bermain sengaja dikosongkan untuk kita.”

Aku hanya mengangguk-angguk senang. Itu artinya aku bisa bebas bermain di Timezone. Setelah itu, aku tidak pernah bertanya lagi.

Fyuh. Sampai juga akhirnya. Entah kenapa mereka menempatkan ayah di tempat paling terpencil. Di ujung terjauh tempat yang indah ini.

Aku lalu duduk bersila. Menggumamkan beberapa kata. Tanah di depanku mulai bergetar. Awalnya perlahan, detik berikutnya seakan bumi sedang dicabut dari akar tata surya. Angin dengan cepat langsung bersepakat dengan hujan untuk membentuk badai. Memporak-porandakan tempat yang indah ini dalam sekejap. Petir menyambar-nyambar mengerikan. Memekakkan telinga.

Seutas tangan muncul dari bawah tanah. Bergerak liar menepis tanah yang menutupi jalannya. Aku menggumamkan beberapa kata. Ditambah dengan senandung lirih.
Wajah Ayah mulai terlihat dari dalam tanah. Dia tersenyum. Meski wajahnya sudah terkoyak disana-sini. Bahkan, ada cacing yang sedang menggeliat dengan malas di tulang pipinya. Dari sini, aku bahkan bisa melihat sisa-sisa ususnya. Menggelayut menyeramkan.

Perlahan-lahan, Ayah merangkak keluar dari lubang tersebut. Kemudian berdiri tegak dan membersihkan sisa debu di tubuhnya.

 “Hai, Anakku. Melakukan ritual biasa?” Dia membelai lembut kepalaku.

“Iya. Edo Tensei yang ayah ajarkan benar-benar bisa terus menyatukan kita.”


Tamat


Hai hai hai. #memfiksikan kali ini mengambil tema “Ayah”. Yah, karena aku gak tau harus mau buat apa lagi. Akhirnya bikin cerita gak jelas kayak ini. Semoga semua suka. Cerita ini dibuat dalam rentang waktu sekitar satu setengah jam.

Buat yang gak tau apa itu Edo Tensei. Itu semacam jurus membangkitkan orang mati di Naruto. Hehe. 

Gimana pendapat kalian tentang cerpennya? Kritik dan saran dong. Supaya aku bisa lebih baik lagi ke depannya.

Salam Asal






Lanjut Baca Terus >>>