Wednesday, October 5, 2016

[CERPEN] Tujuan Hidup



“Pernah gak, sih kamu berpikir tentang kehidupan?”

Aku membuka mata malas-malasan. Pad sedang menatap langit bersalju dengan roman wajah sendu. Ini anak kerjaannya galau mulu. Kena virus remaja kekinian kali ya.

 “Nggak juga. Kenapa? Kamu mau sok berpikir seperti filsuf lagi?” Aku menguap lebar-lebar.
Lanjut Baca Terus >>>

Saturday, October 1, 2016

[KONSULTASAL] Gebetan Gak Tau Diri



Beberapa hari yang lalu, ketika aku lagi asik baca Webtoon, tiba-tiba masuk satu email baru. Aku pikir paling email yang berisi newsletter lagi. Ternyata bukan. Isinya adalah curhatan seseorang. Padahal aku udah jarang ngeblog dan ngeposting Konsultasal. Tapi, tetep aja ada yang mau curhat. Jadi terharu.

Pasien kali ini, sebut saja namanya Arin, curhat tentang hubungan tanpa status
Lanjut Baca Terus >>>

Tuesday, July 5, 2016

Horeee..Guruku Masuk Penjara

Syalom.

Akhir-akhir ini medsos lagi rame banget sama kasus murid yang menuntut gurunya hanya karena dicubit. Ketika awalnya aku ngeliat foto yang memperlihatkan cubitannya, rada simpati juga sih. Ampe biru-biru gitu loh. Ini cubitannya pake puntiran apa ya? Tapi, setelah fotonya yang merokok tersebar, jadi ilfil seketika. Merokok kan katanya bikin terlihat jantan dan macho, lah dicubit doang udah ngadu. Malu sama bungkus rokok. Aku yakin kebanyakan kalian juga ngebully dia karena itu kan?


Aku juga baca di beberapa artikel, anak ini adalah anak seorang tentara. Wow. Temen-temenku yang anak polisi atau tentara, biasanya didikannya lebih keras soal kedisiplinan. Tapi, ini kok lembek banget? Kayak kerupuk kena siram air.
Ada beberapa pihak yang terbelah karena kasus ini. Ada yang mendukung si guru, ada pula yang beranggapan kalau hukuman fisik tidak boleh lagi diterapkan di zaman
Lanjut Baca Terus >>>

Saturday, May 28, 2016

[Cerpen] Invasi Makhluk Asing

Aku melirik sekilas kepada Ibu.

“Apakah mereka akan keluar pagi ini?”

Ibu menghentikan kegiatan mengasah parangnya. Lalu memandangku lurus-lurus, “Entahlah, Nak. Kita tunggu saja.” Kemudian, dia kembali asik mengasah parang.
Srengg..srengg..srengg. Suara parang yang beradu dengan batu asahan membuatku ngilu. Rasa ngilu seperti yang kamu rasakan ketika ada yang mencakar papan tulis dengan kuku.

Ibu mengecek ketajaman parang, membilasnya dengan air, lalu menempelkannya di jidat sambil mengucap doa yang tidak jelas bunyinya. Apakah seserius ini kondisi yang kami hadapi?


Angin pagi menggelitik tubuhku. Membawa serta aroma-aroma alam, termasuk beberapa aroma busuk. Aku bergidik. Membetulkan posisi sarung di badan.

“Apakah Ibu pernah melawan mereka sebelumnya?”

“Ya, tentu. Ketika ibu seumuranmu, nenek melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan. Sambil mengunyah sirih, ‘Untuk mengusir dingin’, katanya.”

Kepalaku tiba-tiba penuh dengan berbagai adegan menyeramkan. Membayangkan ibu yang berada di posisiku sekarang. Setengah telanjang. Kuusir jauh-jauh pikiran itu.

“Apakah mereka benar-benar menyeramkan?”

Ibu tampaknya tidak terganggu dengan pertanyaanku yang datang terus menerus.

“Ya. Mereka sangat menyeramkan. Wajah dan bokong mereka benar-benar mirip. Kamu tidak akan tau apa bedanya. Kulit mereka dipenuhi lendir dan mereka selalu menggeliat menjijikkan. Bahkan, ada mitos yang mengatakan bahwa kau harus membelah kepala mereka. Jika tidak, mereka akan kembali hidup.” Ibu mempraktekkan proses pembelahan kepala kepada sebuah ranting malang yang ada di dekatnya.

Kenapa manusia suka sekali menjadikan alam sebagai bahan percobaan?

Rasa bosan mulai menggelayut di kepalaku. Aku berkali-kali menguap. Ditambah kakiku yang kesemutan karena terlalu lama jongkok. Ibu sekarang asik memainkan semprotan nyamuk. ‘Senjata tambahan’, katanya.

Parang dan semprotan nyamuk. Aku tidak akan heran kalau dari dalam daster ibu tiba-tiba keluar granat tangan.

“Apakah kita bisa melakukannya  besok atau hari lain?” Aku mencoba bernegosiasi. Rasanya aku masih belum siap untuk aktivitas seperti ini.

“Tidak. Keadaan akan memburuk jika kita terus menunda. Keadaanmu lebih tepatnya. Lagipula, ibu sudah menambahkan racun di sekitar sarangnya semalam. Dia pasti keluar hari ini.”

Tiba-tiba aku merasakan kehadirannya. Seperti Spiderman yang bisa merasakan hawa jahat dengan inderanya. Aku merasakan mereka perlahan-lahan menggeliat dari lubang yang selama ini dianggapnya rumah. Semua bulu di tubuhku meremang. Gemulai badannya santai bak Putri Keraton. Menikmati pemandangan yang ada di sekitar.

“Ibu..” erangku lemah. “Dia datang!”


“Tahan sebentar. Berusahalah lebih keras.” Ibu menggengam tanganku. “Sebentar lagi dia akan keluar. Ibu bisa melihatnya.”

Aku mengatur pernapasan. Berusaha untuk tidak melihat ke bawah. Menjaga supaya pandangan mataku tidak bertumbukan dengan mata makhluk tersebut. Aku menengadah. Formasi bintang tiba-tiba berubah menjadi sebuah naga raksasa yang siap menyemburkan api.

Ibu mengeluarkan capit dari dalam dasternya. Hmm..aku tidak melihat capit itu tadi. Kenapa bisa ada dis...

“Arrghhhhhhhh...”

Aku mengerang keras ketika ibu menarik makhluk itu dari tubuhku. “Tahan, Nak. Teruslah mendorong.” Dengan beringas, ibu menarik tubuh makhluk itu. Kasar seperti petugas Satpol PP yang mengusir pedagang kaki lima.

Ingusku merembes turun, jatuh ke sela-sela bibirku. Aku menarik napas panjang, dan dengan sentakan terakhir, aku mendorong makhluk itu keluar. 
HUAAHH...

Rasa lega membanjir di dadaku. Di hadapanku, ibu sedang bergulat dengan makhluk tersebut. Gayanya seperti Triple H yang bersiap melancarkan jurus pedigree. Kamu tidak tau siapa itu Triple H? Sayang sekali.

TAKK. PUKK. PUKK. CROT..

Kepala makhluk tersebut terbelah karena parang Ibu. Kurang puas, Ibu menyemprotnya dengan racun dan mencincang seluruh tubuhnya. Dia mengambil bensin dan korek api -kamu pasti tau ini keluar darimana- dan membakar tubuh makhluk tersebut. Wow. Aku tidak pernah melihat Ibu sebuas ini sebelumnya.
Siapa sangka seekor cacing gelang bisa mengeluarkan sisi terliar Ibu.

“Nah. Sudah selesai.” Ibu menyeka peluh di kening dan lehernya. “Semoga kamu tidak cacingan lagi. Lain kali, pakai sendal kemanapun kamu pergi. Jangan makan sembarangan. Tidak usah lagi berenang di parit depan rumah Haji Sanusi.

Aku hanya menggangguk mengiyakan. Buru-buru cebok, mengenakan sendal dan berlari ke arah rumah. Dari rumah, aku melihat ibu membersihkan bekas-bekas pertempuran tadi. Ibu menimbunnya dengan tanah, membereskan peralatan perang, lalu bersenandung dalam perjalanan ke rumah.

***
Setelah Ibu Zubaidah dan Ase masuk ke dalam rumah, tubuh cacing itu perlahan menggeliat kembali. Bergerak-gerak kesakitan karena bokongnya baru saja dicincang oleh seorang manusia. Lalu masuk ke dalam tanah, mempersiapkan rencana balas dendam.

-TAMAT

Setelah beberapa windu terlewati, akhirnya aku menulis cerpen lagi. Sebenarnya cerpen ini udah lama banget mendekam di folder “Draft”. Tapi, tidak kunjung dipublish. Aku juga udah lama banget gak bikin artikel lagi. Mulai merasakan nikmatnya menjadi blogger murtad. Bikin ketagihan ternyata.

Semoga aku bisa kembali bercerita di blog ini. Oh ya, cerpen ini terinspirasi dari kisahku ketika kecil. Aku pernah pup, dan yang keluar itu cacing. Menyeramkan banget. Aku sampe nangis-nangis ketika itu. Baru kali ini pup ku menjelma menjadi makhluk hidup.

Setelah terkenang akan kejadian tersebut, aku pun menuliskan cerpen ini. Kamu juga pernah pup dan yang keluar cacing? Yuk, ceritakan di kolom komentar. Segala kritik dan saran terhadap cerpen ini juga sangat ditunggu.

Sekian untuk kali ini.

Salam Asal



Lanjut Baca Terus >>>

Sunday, April 24, 2016

[KONSULTASAL] Cinta Kepada Kakak Guru



Rasanya udah berbulan-bulan segmen KONSULTASAL tidak pernah lagi diupdate. Merasa bersalah juga dengan para pasien yang udah curhat tapi gak dipublish di blog. Maafkan aku ya. Huu. Beberapa curhatan yang udah lama, terpaksa aku balas via email aja.

Aku sempat mengira gak bakal ada yang mau curhat lagi. Eh, taunya beberapa hari yang lalu ada email masuk dan curhat. Ternyata, kalian masih percaya dengan kemampuanku yang asal-asalan.
Penasaran seperti apa curhatan kali ini? Langsung baca aja, yuk.

Saya,mau cerita. Nama saya Isa. Ini kisah cinta saya yang pertama. Saya kenal dia dari tempat les. Pertama melihatnya, gak tau kenapa rasa ini beda. Abis itu dia nanya nama saya. Kata dia “Nama kamu siapa?” Terus dia nanya sekolah juga. Ehhh gak disangka-sangka, saya satu sekolah sama dia. Bedanya dia sma, saya smp. Setiap malam saya ketemu dia di tempat les dan dia guru les.

Terus yg bikin saya baper sama dia, kalau habis pulang les pasti kan salim. Di situ saya merasa senang karena saya bisa megang tangannya dia. Gak tau kenapa ya tangan saya kalau lagi salim sama dia suka dipegangin melulu. Kenapa saya suka sama dia karena langka cowo kaya dia. Trus lama lama saya punya perasaaan yang sangat dalam sama dia. Saya pernah menceritakan dia di depan teman-teman saya. Gak tau kenapa saya mengeluarkan air mata. Udah satu tahun saya menunggu dia. Saya udah gak tahan lagi dengan keadaan cinta yang terpendam.

Suatu hari lewat dari bbm, saya ngomong,
“Ka saya suka sama kakak.”
“Ini beneran Isa?”
“Iya”
“Kamu sukanya dari kapan?”
“Dari pertama ngeliat kakak. Terus, responnya gimana, kak?”
“Respon apa?”
“Perasaan kakak ke saya”
“Kalo sekarang, saya anggap kamu sebagai adik gapapa kan? Tapi adik ke kakaknya melebihi seperti seseorang kekasih”

Di situ saya merasa bodoh karena udah memberitahu perasaan yang sebenarnya. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mau gimana lagi, terima aja dengan kenyataan. Tolong responnya ya, Bang.

Hai Isa. Terimakasih sudah berpartisipasi di segmen KONSULTASAL ya. Aku sebenarnya heran, loh. Masih ada aja yang mau curhat. Padahal blog ini udah lama kuanggurin. Kamu pembaca setia ya? Jadi terharu nih.

*Plis. Jawab iya aja. Lagi butuh dukungan moral gara-gara skripsi kampret*
Membaca ceritamu, aku jadi inget dengan masa-masa SMP. Dulu ketika aku masih SMP, nyolek pundak cewek rasanya grogi banget. Itulah makanya aku selalu nyolek dada mereka. Eh.

Btw, aku harus ngucapin selamat nih ke orang yang kamu taksir. Kita kasih namanya siapa ya? Budi aja gimana?

Budi ini, walaupun masih SMA, tapi udah jadi guru les. Salut, loh aku. Pas aku SMA, boro-boro jadi guru les. Ngajarin adik sepupu aja kadang males-malesan. Apalagi kalau pelajaran matematika. Behh, aku iya-iyain aja semuanya. Biar cepet. Besoknya, ketika pulang sekolah, tanpa babibu dia langsung ngelakuin suplex. Dasar sepupu kurang ajar.

Cerita kamu juga belum lengkap nih. Kamu belum ngasitau apa yang bikin Budi langka? Apakah dia termasuk mamalia berputing hexagonal yang akan segera punah? Apakah dia akan menjadi target petisi para pecinta alam berikutnya? Atau apa? Aku belum ngerti nih.

Atau dia langka karena sentuhan tangannya mampu menggetarkan sukmamu? Sehingga kamu jadi menggelinjang keenakan? Pasti tangannya sering dipake olahraga lima jari, makanya bisa mengirim sinyal seperti itu. Maaf rada vulgar. Habisnya, aku membayangkan kamu salim ke Budi, dan tanganmu dipegang-pegang. Pikiranku mendadak kotor. Apa yang sebenarnya dia lakukan ke tanganmu? Apakah dia juga melakukan hal yang sama ke anak didik yang lain? Yang salim gak kamu doang, toh?

Sekarang, gua paham kenapa dia mau jadi guru les. Hmm..

Kamu juga patut diacungin jempol. Menahan perasaan satu tahun itu jago loh. Bukan mendiskreditkan, tapi untuk ukuran anak SMP yang biasanya cuma mengalami cinta monyet, kamu malah mempertahankan cintamu selama satu tahun. Para selebritis yang doyan kawin cerai harus belajar setia dari kamu.

Sayangnya, cinta kamu tidak berbalas ya. Malah masuk ke kaka adik zone. Aku sebenarnya bingung dengan banyaknya zona percintaan jaman sekarang. Dulu, tuh kalau gak suka ya ditolak. Kalau suka ya jadian. Nggak masuk ke dalam berbagai pembagian zona. Kakak adik yang lebih dari sepasang kekasih. WTF!


Kakak-adik macam apa itu. Itu sih artinya kakaknya pengen nyari adiknya pas lagi sange doang. Pas lagi senang, ya pergi sama yang lain. Seriusan, deh. Cowok gak mungkin nolak kalau dia juga suka sama cewek tersebut. Ada tiga alasan mengapa mereka memilih kakak-adik zone:

1. Dia homo
2. Dia pengen manfaatin kamu
3. Menurutnya, kamu jelek

Kalau kamu gak jelek, dan gak merasa dimanfaatin juga, ya berarti dia suka hap hap.

Kamu harus belajar satu hal dari cowok. Mereka yang menolakmu mentah-mentah jauh lebih baik daripada mereka yang menolakmu, tapi masih menginginkan lebih darimu. Setidaknya, yang menolakmu mentah-mentah hanya membuatmu menangis sehari semalam. Yang menolakmu tapi menginginkan lebih, akan membuatmu menangis setiap hari.

Kalau dia selingkuh, kamu mau ngasih kata-kata pedas macam apa coba? Ngundang tim katakan putus, supaya hostnya yang lebay itu muncrat-muncratin si Budi dengan air liur?

Kamu nggak bakalan bisa ngelakuin itu, Sa. Apa yang mau diputuskan kalau tali pengikatnya saja tidak ada?

Berhentilah percaya akan keberhasilan segala macam zona percintaan. Itu hanyalah alasan supaya mereka tetap bisa merengkuhmu, ketika pacar aslinya tidak bisa memberikan cinta. Yah, kecuali kamu emang pengen dimadu gitu, sih.

Kamu tau kan kenapa disebut dimadu? Soalnya cuma diambil madunya, doang. Tapi, yang berurusan dengan lebahnya, ya orang lain.



Tetaplah menjalin komunikasi dengannya, tapi jangan menjalin hubungan-kakak-adik-tapi-kayak-kekasih dengannya. Jadi, teman biasa aja yang tidak melibatkan cinta. Yakinlah, kisah ini nantinya akan kamu kenang sebagai salah satu cerita konyol yang kamu sendiri heran kenapa bisa terjadi. Kamu masih SMP loh. Masih panjang jalanmu untuk merasakan berbagai kisah romansa. Tsahh. Tapi, kalau kamu gak mau lagi berhubungan dengannya nggak masalah, sih.


Tak perlu pisau untuk membunuh cinta. Yang kamu butuhkan hanya ucapan selamat tinggal. As Seen On TV, Christian Simamora.

Untuk sekarang, fokuslah ke sekolahmu. Bersenang-senanglah dengan teman-temanmu. Tapi, jangan sampai kelewatan gaul juga. Jalinlah beberapa hubungan percintaan yang JELAS. Bukan yang masuk ke dalam berbagai zona. Setidaknya kamu punya stok mantan. Bukan stok nyaris kekasih.

Semoga pikiran kamu tercerahkan. Sekali lagi terimakasih sudah mau curhat di segmen KONSULTASAL. Buat temen-temen yang lain, yang udah melalui banyak sekali kondisi percintaan, kasih saran dong bagaimana seharusnya Isa bersikap.

Ceritakan juga di kolom komentar bagaimana pendapatmu soal jenis-jenis zona percintaan sekarang ini.

Sampai jumpa di segmen KONSULTASAL berikut. Semoga masih ada yang curhat. Kalau kamu berminat curhat, jangan ragu-ragu untuk mengirim curhatanmu ke azeegha@gmail.com ya.

Salam Asal.



Lanjut Baca Terus >>>