Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, May 19, 2015

Pengen Jalan-Jalan Kembali

Akhir-akhir ini kayaknya level suntukku sudah mencapai level tertinggi. Akibatnya mood juga gak bersahabat banget. Mudah banget naik-turun kayak roller coaster. Bentar senang, sebentar kemudian udah bete.

Kalau udah kayak gini, moodbooster yang biasanya kugunakan adalah membaca novel. Tapi itu pun tidak berpengaruh banyak. Kayaknya sih harus jalan-jalan kemana gitu. Tapi, liburan masih lumayan lama. Huuu.

Inget liburan, aku kembali teringat masa ketika aku liburan di Pulau Nias. Ah, rasanya kangen banget untuk kembali lagi kesana. Liburan dua minggu kemarin belum cukup untuk memuaskan rasa kangen di kampung halaman.

Rasanya baru kemarin deh aku jalan-jalan ke museum. Ngeliatin binatang-binatang yang dilindungin, struktur rumah adat yang kokoh banget, sampai ke benda-benda seni yang bikin aku mikir, “Hebat banget ya orang jaman dulu bisa ngukir batu serumit ini.”
Aku juga inget pasangan yang mengganggu kesenangan jalan-jalanku dengan muncul dimana-mana sambil bertongsis-ria. Sekarang mereka lagi ngapain ya? Apakah masih suka foto-foto pake tongsis? Ataukah udah putus?



Tapi, yang paling berkesan tentu saja adalah perjalanan ke Nias Selatan.

Aku masih ingat, waktu itu adalah hari sabtu. Kakak dan abangku menggunakan hari libur mereka untuk ikut jalan ke Nias Selatan. Jadilah, hari itu kami bertiga ditambah sepupu, siap berpetualang. Untuk mencapai Nias Selatan, lebih bagus mengendarai mobil. Bisa aja sih naik motor, tapi pasti capek banget. Kalau naik mobil kan bisa nyender gitu. Apalagi ditambah cuaca yang kadang tidak menentu. Bisa tiba-tiba ujan, dan bisa malah panas banget. Kan lebih adem kalau make mobil.

Tangki bensin juga sebaiknya diisi sampai full, karena perjalanan dari kota Gunungsitoli menuju Nias Selatan lumayan lama. Sekitar 3 jam. Kamu pasti gak  mau kan tiba-tiba mobil mogok kehabisan bensin di tengah jalan. Soalnya, gak kayak di kota besar dimana SPBU ada dimana-mana. Di Nias, SPBU masih terbilang jarang. Dan jarak antar SPBU juga rada jauh.

Sayang, meskipun banyak dikunjungi wisatawan, jalanan di Nias Selatan masih banyak yang belum teraspal dengan baik. Ada ruas jalan yang rusak dan berlubang disana-sini. Harus mengendarai mobil dengan hati-hati deh. Semoga ini menjadi kritik bagi pemerintahan Nias Selatan, supaya membenahi segi infrastruktur.

Tapi, dijamin kamu gak akan merasa kelelahan di perjalanan. Soalnya pemandangan di sepanjang jalan itu keren-keren semua. Diawali dengan hijaunya padi-padi. Sedikit menanjak dan berkelok-kelok, disambut dengan pemandangan dari atas gunung. Sumpah ini keren banget. Lalu, mulai menurun, terhampar birunya laut dengan ombak yang tingkat ketinggiannya akan menggoda surfer manapun. Pokoknya kayak Ninja Hattori deh. 

eh, itu padinya udah menguning sih ya

liat tuh. jernih gila airnya

Seperti kebanyakan tempat wisatan lainnya, pantai menjadi salah satu andalan Nias Selatan. Seperti pantai Sorake yang selalu penuh oleh para penselacar. Sebenarnya Nias gak kalah mempesona dengan Bali. Cuma promosinya aja yang kurang. Pantai-pantai disana juga masih biru, dengan pasir yang putih, dan pohon kelapa yang melambai di sepanjang tepian pantai. Benar-benar sejuk dan menenangkan. Tiduran disini enak banget.

Bukan tiduran kayak gini ya

Selain pantai, budayanya juga masih terjaga sampai sekarang.  Seperti di Bawamataluo.  Sebuah desa, yang untuk mencapainya saja harus menaiki puluhan anak tangga. Bener-bener membutuhkan usaha ekstra keras. tapi, kalau udah sampai di atas, wuuuhhh, pemandangan indah terhampar bagai permadani. Campuran antara hijaunya pepohonan, putihnya pasir pantai, dan birunya air laut. Menenteramkan hati.
Di desa adat ini jugalah, tradisi lompat batu berawal. Tradisi yang telah bertahan ratusan tahun. Masih lestari hingga kini. Rumah adatnya juga masih terjaga. Kokoh, walau tanpa sentuhan modernisasi.

Ini patung penjaganya


Nah ! keren kan pemandangannya

Kampung adat Bawamataluo

Tentu saja gak afdol kalau gak foto-foto. Maka aku pun berfoto di depan rumah adat, di depan batu loncat, dan di mana-mana. Disini juga ada yang jualan suvenir, agak mahal sih memang. Bahkan, gelang paling murah saja dibanderol 15 ribu rupiah per gelang. Tapi, gapapa deh. itung-itung koleksi.

Numpang foto doang. Disuruh loncat mah kagak bisa


Ini lagi panas banget. makanya silau

Oh ya, walau asyik jalan-jalan. Jangan pulang kembali ke Gunungsitoli terlalu malam ya. Isunya sih, masih banyak begal. Lebih baik berhati-hati, kan? Ini juga masalah yang harus dibereskan oleh pemerintahan di Nias Selatan.

Untuk berjalan-jalan menyusuri Pulau Nias selain dibutuhkan stamina yang prima, cuaca yang mendukung, diperlukan juga mobil yang tangguh yang siap mengantar kita kemanapun. Seperti mobil Toyota Agya. Mobil ini adalah salah satu mobil LGCC atau Low Green Cost Car. Mobil murah yang ramah lingkungan. Mobil ini juga sangat irit. Dalam keadaan bensin yang penuh, mobil ini siap mengantar kamu kemana saja di seantero pulau Nias.




Khawatir akan jalanan yang belum teraspal dengan baik. Tenang saja, Agya adalah mobil yang lincah, gesit, dan memiliki daya redam yang teruji. Jalanan jelek tidak akan terasa deh. Malah, tau tau udah sampai di daerah tujuan.


Ahhh. Mengingat semua hal ini, aku jadi gak sabar untuk segera liburan kembali ke pulau nias. Ada yang mau nemenin?
Lanjut Baca Terus >>>

Friday, January 16, 2015

Eksotisme Pantai Nias

Ini masih cerita tentang perjalanan ke pulau Nias. Kemarin kan aku udah cerita ketika jalan-jalan ke museum. Sekarang, aku akan bercerita tentang beberapa hal lagi yang menarik dari pulau Nias.

Di pulau Nias masih banyak pepohonan, didominasi sama pohon kelapa dan pinus. Jadi, udaranya masih segar banget. Polusi cahaya juga belum parah banget, bintang-gemintang masih bisa diamati dengan mata telanjang. Lautan bintang. Keren deh pokoknya. Asik banget kalau mau kemah. Kamu bisa liatin rasi bintang, siapa tau liat bintang jatuh, dan kamu bisa minta jodoh.

Tapi, aku sih lebih suka main-main ke pantai. Pantai disini masih bersih, belum kotor karena belum terlalu sering terjamah oleh manusia. Pasirnya putih, lautnya biru, transparan lagi. Sambil minum kelapa muda. Wah, asik banget deh. Kadang kamu boleh menumpang di perahu nelayan untuk ikut mereka mancing di laut.
Pantainya disini ada banyak. Cuma karena jaraknya lumayan jauh dari rumah, aku cuma jalan-jalan ke dua pantai aja.

Yang pertama aku jalan ke Pantai Charlita. Gini nih penampakannya kayak di foto. Pantai ini terletak di arah Nias Utara, kira-kira setengah jam kalau naik motor. Jalan menuju pantainya udah bagus kok, tapi hati-hati ya jangan ngebut. Soalnya di beberapa ruas jalan, di samping jalan itu yaaa laut. Kalau kamu jatuh ke bawah, siap-siap aja deh jumpa sama Mr. Krab.

agak mendung


Selain itu, semuanya asik. Udara masih segar. Menikmati pemandangan adalah hal yang wajib kamu lakukan. Melihat rumah penduduk yang sebagian masih terbuat dari kayu, mengamati aktivitas mereka, dan masih banyak lagi.

Oh ya, jangan khawatir tersesat. Ada plang jalan kok yang menunjukkan Pantai Charlita ada di sebelah mana. Biasanya, di sebelahnya ada gerombolan kerbau yang akan menyambut kamu. Mereka emang sering merumput di sekitar situ. Tapi kamu gak usah deh naik ke punggung kerbau sambil nyanyi, “aku adalah anak gembala.... Selalu riang serta gembira.....”

Nggak usah segitu noraknya deh.

Main-main di pantai ini asik. Ada pondok-pondok juga. Cocok untuk kamu yang bawa pasangan. Kalau lapar, tenang aja, ada kantin yang menyediakan berbagai jenis hidangan laut atau hidangan biasa. Pantainya luaass banget, kamu bisa main sepakbola sepuasnya deh, tanpa takut kaki akan terluka oleh sesuatu. Pasirnya lembut kok.

tuh. luas kan.

Sehabis capek main bola, tinggal nyebur aja deh ke laut. Ciprat-cipratan. Kejar-kejaran. Peluk-pelukan. Ya gitu deh. Aktivitas orang pacaran. Jomblo mah liatin aja dari tepi pantai -_-.

yang bawa pacar udah gua usir.


Pantai yang kedua adalah Pantai Baloho. Gak yakin juga sih ini nama pantainya bener apa kagak. Anggap aja bener deh. Pantai ini terletak di Nias Selatan, dimana pantai di Nias Selatan itu ombaknya cenderung gede. Perjalanan menuju pantai ini memakan waktu sekitar dua setengah jam. Tapi kamu gak bakalan bosan kok, pemandangan indah sudah siap untuk memanjakan mata.

Kadang kamu dapat pemandangan dari atas gunung, kadang dapat pemandangan dari tepi pantai. Kamu bisa menyaksikan sendiri gimana kerennya pantai Nias Selatan dengan ombaknya yang menggoda para surfer. Nias Selatan emang udah jadi spot surfing yang dikenal dunia. Tapi, kamu harus tetap hati-hati, soalnya ada beberapa ruas jalan yang rusak. Daripada perjalanan kamu terganggu, lebih baik santai aja bawa kendaraannya.

Nah, kalau udah sampe di pantai, semua kepenatan perjalanan akan terbayar lunas. Pemandangan tenang nan agung dari pantai akan menyambut kamu. Birunya laut benar-benar terasa. Beniiinng banget. Pacar kamu kalah deh beningnya. Aroma laut yang memabukkan, semilir angin yang memainkan rambut, deburan ombak kejar-mengejar. Bisa buat kamu sejenak melupakan masalah di hidup. Silakan nikmati sensasinya.


Keponakan. Entah kenapa awannya gitu


sama keponakan

Oh ya, pantainya belum terlalu padat oleh manusia kok. Jadi kamu bisa puas-puas menikmati pantai tanpa takut harus nyenggol orang. Di sekitar pantai, ada pohon kelapa yang tumbuhnya agak miring. Boleh deh kamu coba-coba naik. Tapi hati-hati ya, kelihatannya emang mudah. Tapi percayalah, itu susah banget. Aku udah membuktikannya.



susah men

Jomblo mah gini aja gayanya  :')

Satu lagi. Berkunjung ke Nias Selatan gak akan lengkap kalau gak pergi ke Desa Bawamataluo. Dalam bahasa Indonesia, artinya adalah Desa Matahari Terbit. Desa ini letaknya tinggi banget. Sekitar (xxx meter dari permukaan laut). Untuk mencapai desa ini kamu harus naik tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan. Tapi kalau udah sampai di atas.... taraaaa. Pemandangan indah akan menyambut.



Patung Naga. Penjaga di tangga bawah


Kamu bisa melihat pantai di sebelah sana, rumah penduduk di sebelah situ. Sensasinya kayak mendarat di puncak dunia. Di desa adat ini, rumah penduduknya masih berupa rumah adat, yang menggunakan tiang penyangga yang diameternya luar biasa gede, dan dibangun tanpa menggunakan satu buah paku. Entah bagaimana mereka dulu membangunnya, aku juga heran. Kayu itu  disusun seperti puzzle yang saling merekatkan. Dan karya arsitektur itu masih bertahan hingga kini. Keren.

Kamera gak memadai.


Disini jugalah tempat dilaksanakannya lompat batu yang melegenda. Kalau kamu mau menyaksikan lompat batunya, kamu harus bayar para pelompatnya sekitar 300 ribu untuk satu kali lompatan. Yah, harga mahal emang setara dengan resikonya. Kalau kamu mau nyoba silakan. Asal selangkangan kamu dilapisi pake berlian dulu.


Ayo ayo siapa berani?

Kehidupan masyarakat di sana emang masih tradisional. Dan jangan coba-coba bersikap tidak sopan ya. Jagalah sopan santun, supaya kamu bisa pulang dengan kepala yang masih menyambung di badan. Ohya, masyarakat Nias kuno dulu gemar banget memotong kepala orang. So, be careful. Hahaha.

Gini nih kampung adatnya


Kerajinan tangan merupakan salah satu mata pencaharian disini. Kamu bisa beli deh gelang-gelang unik khas Nias. Atau membeli ukiran-ukiran berseni tinggi. Kan keren kalau dipajang di rumah atau dijadikan oleh-oleh.

Nah. Gitu deh perjalananku ketika liburan di Nias. Silakan deh kamu juga eksplor Nias. Untuk memuaskan jiwa petualang. Tapi bawa guide ya, biar kamu gak nyasar.

Masih banyak lagi potensi pariwisata yang bisa dikembangkan dari pulau Nias. Seandainya pemerintah daerah mau mempekerjakan blogger kayak aku di bidang pariwisata, pasti udah banyak deh pemasukan untuk daerah. Semoga ada yang bekerja di bidang pemerintahan di Nias yang membaca ini. 

Oleh oleh senja dari Nias.


Sekian artikel kali ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya. Daah.

Salam Asal.



Lanjut Baca Terus >>>

Sunday, January 11, 2015

Day at The Museum

Ini sebenarnya sambungan cerita ketika di nias. Nah, setelah ditawari untuk jadi menantu oleh ibu-ibu di sekitar situ, dan setelah dengan susah payah aku tolak juga (yaiyalah. Wong dijodohin sama anaknya yang masih 5 tahun. Dikirain aku Emon), aku lalu jalan-jalan ke tempat wisata di dekat situ.

Agak lama sih baru terealisasi jalan-jalannya. Soalnya Nias kalau lagi musim hujan, hujannya awet banget. Kayak hubungan kamu sama selingkuhanmu. Dalam seminggu, paling cuma dua hari cerah, selebihnya ujan. Di dalam dua hari itupun, cerahnya paling cuma beberapa jam doang. Jadi kalau kamu mau mengunjungi nias, saat paling tepat adalah bulan tujuh atau bulan delapan. Kenapa? Karena disana lagi musim durian. Dan durian disana enaknya udah level 20. Murah lagi. Surga deh.

Eh, ini kok ngomongin durian? *skip*




Tempat pertama yang kukunjungi adalah museum. Nah, pas aku datang, museumnya sepiii banget. Takutnya museum malah jadi tempat mesum. Soalnya di pojokan ada aja yang sembunyi-sembunyi pacaran. Huh. Jomblo mah gak aman kemana-mana.
Masuk ke museum harus bayar karcis. Gak mahal kok, cuma lima ribu rupiah untuk masuk dan lima ribu lagi untuk melihat koleksi benda antik di dalamnya.

Di dekat museum ini juga ada asrama Katolik khusus Putra, jadi yang cewek hati-hati aja kalau lewat ya. Bakal banyak yang menjelma jadi burung beo soalnya. Jago nyiul.

Rumah adat Nias

Di museum itu semua kebudayaan Nias ada. Mulai dari rumah adat, pakaian perang, sarkofagus (peti mati), alat memasak, benda megalitikum dan masih banyak lagi. Oh ya, disana juga dilarang memotret. Namun, karena rasa penasaran, aku dengan bijaksana melanggar aturan tersebut.

Patung ini diluar, bukan di dalam museum. Jadi boleh dipotret.

Aku memotret di ruangan ketiga, itu tempat peti mati bangsawan serta pakaian perang ditampilkan. Pertama kali motret, gambarnya kabur. Oke.. mungkin kesalahan teknis. Aku nyoba foto lagi, kali ini makin kabur dan udara dingin berhembus masuk. Nah, disini bulu ketek biasanya udah mulai berguguran. Takut men. Pantas aja dilarang, pengaruh mistisnya masih kuat banget ternyata di benda yang ada disini. Jadi kalau kamu gak pengen kesurupan dengan gaya kodok, gak usah deh difotoin benda-benda disitu.

Nah museum ini juga merangkap sebagai kebun binatang. Ada beberapa binatang yang “dipamerkan” disitu. Kayak buaya, rajawali, babon (yang ngejek dengan pantat bahenolnya), monyet (kayak kamu), rusa, dan masih banyak lagi. Kan jarang-jarang bisa liat binatang sebahenol babon. Biasanya liatin Nicki Minaj doang.

Oh ya, pas aku datang ke museum, ada satu pasangan yang kerjanya asik foto-foto mulu pake tongsis. Dan kayaknya aku selalu jumpa mereka dimana-mana. Buset dah. Sengaja banget manas-manasin ya. Bawaannya tuh pengen jorokin mereka ke kandang buaya.

Di pinggiran museum ini adalah pantai. Jadi kalau udah capek jalan-jalan, bisa nyantai deh di pantai. Sambil liat anak-anak berenang, atau yang lagi nyari kepiting, atau liat pasangan yang asik foto pake tongsis. YAELAH. MEREKA LAGI. *golok mana golok*.

Ini nih pinggir pantainya


Capek jalan-jalan, aku nyantai bentar di kantin sekitar situ. Memesan indomi dan secangkir teh. Hujan turun rintik-rintik, tak berapa lama menjadi deras. Ah...sudahlah. kayaknya bakal lama nih kejebak hujan di sini. Iseng aku melihat sekeliling, di pojokan ada pasangan yang lagi asik foto pake tongsis.

Ya Tuhan. Kuatkanlah hamba.

Nah itu aja dulu cerita jalan-jalan ketika di Nias. Masih ada kok yang lainnya. Tunggu aja ya. Daaahh.

Salam asal.


Lanjut Baca Terus >>>

Wednesday, December 31, 2014

Secuil Kisah Pulang Kampung 2

Sekitar empat hari setelah sampai di Nias, ada kejadian menggemparkan di malam hari. Semua orang berbondong-bondong melihatnya. Ya, aku juga ikutan dong. Aku nyusul mereka dari belakang. Setelah beratus-ratus meter, ternyata tujuannya adalah pelabuhan.

Aelah. Kirain tempat apaan. Apa sih istimewanya pelabuhan? Cuma sekumpulan kapal yang berlabuh. Bukan jodoh juga yang berlabuh. Iseng-iseng nanya, ternyata ada kapal besar yang akan berlabuh. Yahhh... padahal sih aku berharap ada Katara yang lagi nunjukin pengendalian airnya.

Kotaku ini benar-benar kekurangan hiburan deh kayaknya. Jadi kedatangan kapal besar aja, bisa memancing ratusan orang datang ke pelabuhan. Disini emang gak ada warung-warung ber-AC sebangsa Ind*maret atau Alf*mart. Adasih minimarket, tapi bukan waralaba. Beda dengan Medan, dimana tiap 100 meter ada Ind*maret. Disini lebih banyak warung tradisional.

Yah, karena udah terlanjur disini, aku berjalan-jalan sejenak. Pelabuhan ini beneran rame banget. Hampir penuh. Mulai dari tukang becak, pedagang asongan (btw, mereka dagangnya di atas gerobak pasir. Anti-mainstream), calon penumpang, polisi, sampai ke orang iseng kurang kerjaan kayak aku.

Di suatu sudut pelabuhan, ada sebuah keluarga. Sang Ayah jongkok sambil nyuapin anak dan istrinya. Makanan mereka cuma sebungkus nasi dan sebotol air mineral. Agak nyess melihatnya. Benar-benar wujud harafiah dari “mencari sesuap nasi”. Tapi mereka senang-senang aja. Senyum tetap terukir di wajah mereka.

Aku berjalan beberapa langkah. Sekelompok anak perempuan sedang asyik bermain di atas batu yang lumayan besar. Mereka bertingkah layaknya petinju pro, kaki sibuk menari-nari untuk menjaga keseimbangan. Dan sekali lagi, dengan permainan sederhana seperti itu, tawa riang terdengar. Aku bahkan udah lupa cara bermain imajinasi seperti itu. Semakin dewasa malah semakin rasional dan menolak berpikir imajinatif.

Tidak jauh dari situ, ada sebuah keluarga dengan dua orang anaknya yang masih kecil. Dengan pipi tembam menggemaskan. Si kakak tiba-tiba berdiri, menyambar botol mineral dari tangan ayahnya. Dia lalu berlagak layaknya David Beckham. Bersiap-siap menendang sebotol mineral. Dia berlari kecil dengan gayanya yang lucu, mengambil ancang-ancang...dan menendang botol aqua sekuat tenaga dan.... sandalnya terlepas. Melayang. Nyaris masuk ke dalam laut. Dia lalu jatuh terduduk.

Si Adik melihat itu, langsung tertawa terbahak-bahak. Khas tawa anak kecil. Diikuti dengan kedua orangtuanya. Mereka tertawa begitu lepas. Kakaknya yang awalnya kebingungan, ikut tertawa juga sambil bergelayut di pundak ayahnya. Menyembunyikan rasa malu.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa selepas itu. Tawa yang dulu hanya kusaksikan di TV, sebagai gambaran keluarga ideal. Siapa sangka aku kembali menyaksikannya di tempat seperti ini. Di pelabuhan. Bahagia memang betul-betul sederhana.

Kota ini memang kekurangan hiburan. Lebih tepatnya hiburan modern. Disini tidak ada supermarket, mall, bioskop dan lain-lain. Tapi mereka tetap bisa menghibur diri dengan hal-hal kecil nan sederhana. Mereka bermain dengan imajinasi. Ada baiknya juga modernisasi tidak terlalu kuat pengaruhnya disini.

TUUUTTT. Terdengar peluit nyaring. Ah, itu dia si kapal besar. Dia sudah hampir berlabuh. Ratusan orang melambai dari kapal. Mengingatkanku akan film Titanic. Aku bergegas mendekat. Siapa tau bisa berjumpa dengan Jack dan Rose. Hehe.



Lanjut Baca Terus >>>

Wednesday, November 26, 2014

Tanda Kamu Orang Indonesia

Sumber

Indonesia. Tanah air beta. Pusaka abadi nan jaya

Entah dengan kalian, tapi aku masih merinding kalau mendengar atau menyanyikan lagu itu. Negara kita ini negara yang kaya dan majemuk. Terdiri dari berbagai suku, bahasa, dialek dan agama. Kehidupan kita pun lumayan harmonis satu sama lain, kecuali yaaa, ada beberapa kelompok yang merasa prajurit Tuhan dan berhak untuk memandang rendah minoritas. Mungkin mereka mengira Tuhan begitu tidak berdaya sehingga patut dibela sedemikian rupa.

Tapi, bukan itu yang mau kubahas di artikel ini. Karena Indonesia itu luas dan beragam masyarakatnya, pasti banyak banget dong sifat-sifatnya. Tapi tahukah kamu kalau ternyata ada beberapa perbuatan atau sifat yang menandakan kamu itu orang Indonesia. Hal yang membedakan kamu dengan bangsa lain.
Penasaran? Yuk baca terus..

1. Bisa Bahasa Indonesia
Yaiyalah. Secara kamu hidup di Indonesia, makan minum dari tanah Indonesia, boker pun di Indonesia, masa sih kamu gak bisa bahasa Indonesia? Beberapa suku pedalaman emang ada yang kurang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tentu saja ini tugas kita semua untuk membantu mereka. Ada juga yang terobsesi jadi programmer sehingga bahasanya terdiri dari campuran angka dah huruf. 

Contohnya : 4k00ehh c@y@nk d14 c3l4l03h.

Bahkan Illuminatti pun tidak bisa membuat kode serumit itu.

Tapi ada juga sih beberapa orang yang merasa lebih keren bicara pake bahasa Inggris. Dan kalau ada presiden yang pidato kenegaraan tapi bahasa Inggrisnya medok, pasti langsung di bully. Padahal kan ya itu aksen. India atau Cina juga punya aksen tersendiri kalau bicara bahasa Inggris. Kamu tau siapa mereka yang suka ngebully itu? Sstt.... gak usah bilang-bilang. Biarkan aja mereka senang.

2. Hafal Pancasila
Ini kudu, wajib, harus banget kamu tahu. Menghafal Pancasila itu sama dengan menghargai jasa para pahlawan loh. Emang kamu kira mereka nyusun Pancasila sambil duduk di tangga terus nyari kutu? Mereka itu nyusun Pancasila dengan mempertimbangkan warga Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Mulia banget kan mereka. Makanya kebangetan banget kalau kamu sampai gak hafal Pancasila.

Ada sih beberapa orang yang pengen ngerubah pancasila ini sesuai keinginan mereka. Ada yang pengen ngubah sila pertama, ada yang pengen jadiin pancasila warna merah, macem-macem deh. Kamu jangan mau jadi golongan gitu ya. LAWAN.

3. Suka Makan Nasi Padang
Ada yang bilang, hidup belum lengkap kalau belum makan nasi padang. Uuhhh, nasi padang itu emang paling top kalau urusan memanjakan lidah. Lidah pacar kamu nomor dua. Itu juga kalau punya pacar. Apa? Masih jomblo? Mungkin jodohmu udah disita oleh negara.

Nasi padang itu bayanginnya aja udah bikin laper. Menghirup aromanya udah bikin air liur bergerilya. Apalagi pas disantap, duhh maknyus. Tipsnya sih pesen nasi padang tuh yang dibungkus. Soalnya nasinya lebih banyak. *Mental anak irit*

4. Pernah Makan di Warteg
Nah, warteg ini 11-12 sama nasi padang. Cuma kalau nasi padang masih terlalu mahal untuk dompet kamu yang lagi rawat inap di ICU, maka warteg adalah solusinya.
Warteg itu ibarat penyelamat di kala kelaparan. Selalu ada ketika membutuhkan. Kecuali kamu butuhnya pas dini hari, karna kayaknya belum ada warteg melayani delivery. 

Harganya juga murah meriah. Mulai dari 5 ribu sampai 10 ribu. Kalau kamu udah kenal dengan penjualnya, mungkin bisa dilebihin lauknya, minimal kamu dikasih lengkuaslah.
Di warteg ini semua lapisan masyarakat bisa ngumpul, mulai dari tukang parkir, karyawan sampai bos perusahaan pun kadang suka makan di warteg. 

Tapi kamu tau gak sih apa yang menyebabkan masakan warteg enak? Ya tentu aja keringat mbok-mboknya dong. Itu penyedap utama. Lebih ampuh daripada mecin manapun.

5. Tukang Ngeluh
Nah, ini nih susahnya juga di Indonesia. Banyaaakkkkk banget orang yang suka ngeluh. Itu kalau mereka dikumpulin semua dan ngeluh di waktu yang bersamaan, bisa menyediakan listrik selama sebulan di wilayah indonesia loh.

Ngeluhnya juga banyak banget dan gak abis-abis. Macetlah, uang sekolah naik, sembako naik, panas, jomblo abadi, susah boker. Macem-macemlah. Gak tau deh gimana cara mereka menjalani hidup.

Padahal kan berteman sama orang ngeluh itu gak enak. Malah nambahin beban pikiran kita, karena kita jadi kepikiran dengan keluhan dia. Kepikirannya antara mau bantuin dia atau mau siram mulut dia pake asam sulfat.

6. Sinetron
Wuiihhh. Ini nih salah satu industri paling kreatif di tanah air. Bagus-bagus semua sinetronnya. Sangat layak untuk ditonton lah pokoknya. Dari jarak 5km.
Sinetron Indonesia sekarang ini juga udah Go International loh. Kamu pasti gak tau kan kalau ternyata sinetron itu sering banget ditiru sama film Hollywood.  

Kamu tau film ganteng-ganteng serigala? Ternyata sinetron GGS dibuat versi Hollywoodnya jadi Twilight. Berseri pula. Dih, gak malu deh itu Hollywood. Ada lagi film Bastian Steel. Ternyata film ini menjadi dasar film Harry Potter loh. Kamu kaget? Ya, fakta ini benar-benar mencengangkan kita semua. Makanya jangan langsung ngejudge film lokal gak bagus, buktinya banyak ditiru tuh sama film luar. 
Membanggakan. *prok prok*

Oh ya, sinetron juga semakin bervariasi pemainnya. Dulu kebanyakan menggunakan karakter manusia. Sekarang menggunakan binatang. Iya binatang. Bayangin aja. Pasti susah banget kan akting bareng binatang. Jempol deh pokoknya buat sinetron indonesia. Apalagi aktor-aktornya, wih kalau bicara dalam hati, pasti suaranya kedengeran. Mereka juga suka bicara sendiri gitu, pasti mereka punya sixth-sensei yang kelewat tajam.

7. Suka nge-bully jomblo
Aku juga bingung sih, kenapa jomblo selalu dibully. Salah apa coba jomblo-jomblo ini. Mereka gak ganggu orang pacaran, mereka bayar makan sendiri-sendiri, mereka juga masih pake tangan. Tangan tetangga.

Atau yang pacaran iri kali ya sama yang jomblo? Biar yang jomblo juga ngerasain sakitnya pacaran? Biar yang jomblo akhirnya ngerebut pacar kamu dan kamu hanya ketawa sambil bilang, “Mamam deh tuh mantan gua. siap-siap aja lo galau.”

Pasti itu kan niatnya. Hih, memalukan. Harusnya tindakan ini segera dihilangkan. Emang kalian mau dilaporkan ke KJI? Komisi Jomblo Indonesia? udah ratusan juta loh anggotanya. Kamu mau digigitin rame-rame? Makanya hormati dong yang jomblo.
*Pembenaran banget ya*

8. Suka Dangdut
Dangdut ini bisa dibilang adalah warisan budaya yang harus dijaga loh. Kayaknya cuma di Indonesia aja ada dangdut. Sekarang aja orang asing udah bisa memainkan dan nyanyi musik dangdut loh. Sebelum diklaim sama negara tetangga, mending kita lestarikan mulai dari sekarang.

Tapi nih ya, lagu dangdut jaman sekarang kurang berbobot. Beda dengan jaman dulu. Jaman dulu tuh lirik lagu dangdutnya dalem, nancep di sanubari. Kalau Adele dengerin lagu dangdut jaman dulu, pasti dia langsung minder. Someone like younya mah bukan apa-apa.

Kalau sekarang? yaelah. Cuma make kata-kata yang lagi tren aja. Contohnya kayak Aku Rapopo, Sakitnya tuh disini, Sakitnya tuh disini tapi aku rapopo kok. Aneh-aneh deh.
Tapi, walaupun gitu, kita harus tetap cinta budaya lokal. Hidup Dangdut. Hidup bulu dada bang Rhoma Irama.

Nah, itu deh tadi sifat dan perbuatan yang sering dilakukan oleh orang Indonesia. Apakah kamu termasuk salah satunya? Atau malah ada tanda-tanda yang lain? Yuk ceritakan di kolom komentar.

Sekian aja artikel hari ini.

Salam Asal




Lanjut Baca Terus >>>