Tuesday, March 25, 2014

(Terpaksa) Melepasmu #cerpen



Hujan masih mengguyur. Mengembuskan kesejukan ke tiap-tiap hati. Tapi, mungkin tidak ke hatiku. Kutatap wanita dihadapanku. Wanita yang telah bersedia berbagi canda tawa, suka duka, senyum amarah, selama satu tahun ini.

Kuberanikan diriku mengucapkan kata-kata, yang kurasa terkutuk ini.
“Nia”.

Dia menoleh pelan. Mengalihkan pandangannya dari hujan, kemudian menatap manik mataku dengan lembut. Ya Tuhan, aku tidak tega mengatakannya.

“Kurasa sebaiknya...”
Kalimatku menggantung di awang-awang. Dadaku berdegup kencang. Beberapa butir air hujan singgah ke wajahku.

“apa sayang?” tanyanya lembut.

“Kita lebih baik...emmm...putus saja..” 

JDERR. Petir menyambar di kejauhan. Tapi rasanya dekat sekali.

Aku menggigit bibirku. Kuberanikan menatap wajahnya. Hatiku semakin teriris.

“Kenapa? Kukira kita baik-baik saja?” air mata mengalir dari pelupuk matanya. Air mata yang biasanya tidak kuizinkan untuk berlabuh di wajahnya.

“Tidak. Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini.”

“Tapi kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku. Kamu sudah janji, Rian. Sudah janji. Janji”. Pukulan pelannya di badanku tidak kuhiraukan. Aku ingin mendekapnya, dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi, itu hanya menjadikan keadaan bertambah buruk.

“Maafkan aku, Nia. Aku bukanlah pria yang tepat untukmu.”

Aku beranjak dari tempat dudukku. Hujan masih mengguyur. Nia masih menangis. Tapi suara tangisannya tidak keluar. Dia menangis dalam hati. Ya Tuhan, benarkah keputusan ini?

 Hatiku luluh lantak. Hujan adalah saat kesukaan kami. Tapi, hari ini berubah. Hujan berubah menjadi duka.

Kuambil jaket dan menerobos keluar. Kutahan air mata ini supaya tidak meluncur. Aku adalah lelaki. Dan suatu kepantangan untuk menangis. Rinai hujan mencubit kulitku. Mungkin sebagai hukuman karena telah menyakiti hati seorang wanita.
Ini adalah keputusan terbaik!

***

Sudah satu bulan berlalu. Kami masih sering bertemu di kampus. Sangat tidak enak rasanya, memiliki seorang mantan di kampus yang sama. Kami saling menjauh. Mungkin lebih tepatnya, akulah yang menjauh. Aku yang menciptakan jarak, supaya rasa cinta kepadanya, perlahan-lahan terbunuh.

“Kau udah putus sama Nia?” tanya Wawan, sahabatku.
“Udah. Sebulan yang lalu.” Aku menekuri buku bacaanku. Berusaha mengalihkan perhatian.

“Ah. Bodoh benar kau ni. Cewek secantik itu kau sia-siakan.”
“Masih banyak cewek yang lain, Wan. Wanita bukan cuma dia saja.” Aku menyangkal hati.

“Macam banyak kali yang suka sama kau, kenlap.”
“Daripada kau, masih jomblo, dasar ketombe ikan. Hahaha.”
“Eh, Yan. Kemarin Nia curhat samaku. Dia masih kangen samamu. Dia galau berhari-hari, Yan. Bayangkan saja itu.” Rini, sahabatku yang lain, ikut menimpali.

“Ah yang  benar? Ekhm maksudku, waktu pasti mengobati semuanya kok, Rin.” Susah payah kutahan rasa ingin tahu yang menggelegak.

“Hati wanita gak segampang itu bisa diobati, Yan. Oleh waktu sekalipun. Satu tahun kisah kalian bukan waktu yang singkat. Pasti banyak kenangan yang mau tidak mau akan muncul keluar.”

Aku terdiam. Sialan dua orang ini. Kenapa mereka malah menyalahkanku?
 “Tapi kenapa kalian jadi menjauh? Bukankah dulu pernah akrab. Putus cinta tidak berarti putus tali silaturahmi, Yan,” kata Wawan.

Satu lagi perkataan yang berhasil meninju ulu hatiku. Aku tergagap mencari pembenaran.

“Tidak usah mengelak, Yan. Resapi saja kata-kata kami tadi.” Wawan menepuk pundakku pelan. Rini tersenyum menguatkan.

Beginilah kalau sudah bersahabat bertahun-tahun. Mereka  bisa menebak jalan pikiranku.

***
Suatu senja. Aku berjalan-jalan di taman kampus. Sekedar membuang penat karena kecapekan mengadakan penelitian.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aroma rerumputan segar, bercampur dengan aroma mawar di kebun bunga.

Sayangnya aroma ini tercemar dengan bau kotoran ayam. Kampus ini memang beternak ayam sebagai bahan praktek mahasiswa peternakan.
Aku berjalan lagi sambil sesekali merenggangkan badan.

Di ujung jalan, Nia juga berjalan ke arahku. Sial.

Aku celingak-celinguk berusaha mencari tempat persembunyian. Tapi tidak ada tempat yang bisa menyembunyikan badanku. Baiklah, sepertinya aku harus menghadapinya kali ini. Kuhembuskan napas, dan kukuatkan hatiku.

Nia terlihat sangat cantik dalam balutan baju gamis, dengan jilbab yang menudungi kepalanya. Ah, kenangan tentang kisah kami dulu mulai berseliweran di kepalaku. Betapa dia menjadi lebih cantik sekarang. Perasaan ingin memilikinya kembali membuncah, bagai ombak.

Ternyata Nia tidak sendirian. Dia bersama seorang cowok. Cowok yang tegap, dengan perawakan sederhana. Lumayan tampan. Kuakui itu.

Dia menggandeng Nia yang terus tersenyum kepadanya. Ah, ada sedikit rasa cemburu menggelayut di hatiku. Rasa cemburu yang berbalut rasa kangen. Ya, sudah dua bulan ini aku tidak bertemu Nia karena sibuk penelitian.

Mereka semakin mendekat. Kufokuskan pandanganku ke depan. Tidak ingin membuat kontak mata dengan mereka. Leherku menegang. Dengan ekor mataku, kuperhatikan Nia sempat melirik ke arahku, kemudian tersenyum sopan.

Ah, dia sudah berhasil melupakanku. Entah kenapa aku merasa sedih.

Tapi, mereka ternyata berbelok menuju masjid. Hendak shalat maghrib mungkin.
Aku tersenyum dalam hati. Kukeluarkan kalung salib dari balik bajuku. Kutelusuri pahatan patung itu dengan ibu jari. 

Kau sudah menemukan yang terbaik, Nia, batinku.

Kumasukkan lagi kalung tersebut. Dan kemudian aku menengadah menatap langit, Bapa, kehendakmu jadilah.


 Gimana menurut kalian cerpennya? silakan kritik dan saran ya. atau ada juga yang pernah mengalami kisah cinta yang kayak gini. silakan berbagi :)
Lanjut Baca Terus >>>

Sunday, March 16, 2014

Keindahan Budaya Nias

Beberapa bulan yang lalu, Forum Komunikasi Mahasiswa Nias di kampus gua, mengadakan pagelaran seni budaya dalam rangka ulang tahun kampus. Jadi, kami memperkenalkan kebudayaan Nias kepada pengunjung.

Kami menampilkan tari moyo, tari baluse dan lompat batu.

 photo DSC_0138_zps67b74749.jpg
ini para penarinya

Tari Moyo atau disebut juga dengan tari Elang yang terus mengepakkan sayapnya dengan lembut tanpa mengenal lelah, menaklukkan sesuatu yang bermakna bagi sesamanya dan dirinya sendiri. Tarian ini melambangkan keuletan dan semangat secara bersama dalam mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan. Tari Moyo ini kadang dilaksanakan setelah atau sebelum acara atau perayaan – perayaan atas hari tertentu, bahkan untuk menyambut tamu di Nias sendiri.

 photo DSC_0134_zps5c810d65.jpg
tetep diiringi dengan musik tradisional

Tarian ini koreografinya cukup sulit. Karena kaki harus terus bergerak, dan tangan terus mengepak. Dengan tetap mengutamakan keindahan tarian. Para penari hanyalah kaum perempuan. Mungkin untuk mempertegas kalimat bahwa perempuan itu adalah keindahan.

Tari berikutnya adalah tari baluse. Tari Perang atau Foluaya merupakan lambang kesatria para pemuda di desa – desa di Nias, untuk melindungi desa dari ancaman musuh, yang diawali dengan Fana’a atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan ronda atau siskamling.

Pada saat ronda, jika ada aba-aba bahwa desa telah diserang oleh musuh maka seluruh prajurit berhimpun untuk menyerang musuh. Setelah musuh diserang, maka kepala musuh itu dipenggal untuk dipersembahkan kepada Raja, hal ini sudah tidak dilakukan lagi karna sudah tidak ada lagi perang suku di Nias.

 photo DSC_0143_zps37a5dfb6.jpg
yang pake baju merah adalah panglima perang.

Pemenggalan kepala ini tidak hanya dilakukan ketika melawan musuh. Tapi terkadang ketika membuat acara besar-besaran, dipenggallah kepala beberapa orang supaya acara itu berlangsung dengan sukses. Hal ini yang menyebabkan banyak orang beranggapan kalau suku Nias kanibal. Tentu saja tidak. Mereka hanya memenggal kepala, namun tidak memakan daging orang tersebut.

Persembahan ini disebut juga dengan Binu. Sambil menyerahkan kepala musuh yang telah dipenggal tadi kepada raja, para prajurit itu juga mengutuk musuh dengan berkata “Aehohoi”yang berarti tanda kemenangan. setelah di desa diserukan “Hemitae” untuk mengajak dan menyemangati diri dalam memberikan laporan kepada raja di halaman, sambil membentuk tarian Fadohilia lalu menyerahkan binu itu kepada raja.

 photo DSC_0147_zps5b5dfb7a.jpg
btw, itu parang asli

 Setelah itu, raja menyambut para pasukan perang itu dengan penuh sukacita dengan mengadakan pesta besar-besaran. Lalu, raja menyerahkan Rai, yang dalam bahasa Indonesia seperti mahkota kepada prajurit itu. Rai dalam suku Nias adalah merupakan tanda jasa kepada panglima perang. Tidak hanya Rai yang diberikan, emas beku juga diberikan kepada prajurit-prajurit lain yang juga telah ikut ambil bagian dalam membunuh musuh tadi.

Kemudian, raja memerintahkan “Mianetogo Gawu-gawu Bagahemi”, dengan fatele yang menunjukkan ketangkasan dengan melompat-lompat lengkap dengan senjatanya yang disebut Famanu-manu yang ditunjukkan oleh dua orang prajurit yang saling berhadap-hadapan.

Seiring berkembangnya Zaman Tradisi ini dilakukan hanya pada hari hari tertentu atau untuk merayakan acara acara tertentu.

Ketika pertama kali gua latihan tarian ini, besoknya gua gak bisa bangun dari tempat tidur. Pegal semua badannya. Tangan lecet-lecet. Pantes orang jaman dulu fisiknya pada kuat. Kebanyakan menari sih.

Nah yang menjadi puncak acara adalah lompat batu atau hombo batu.

 photo DSC_0153_zps642e2ade.jpg
ini replika batunya

Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang tolakan dari permukaan tanah 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki teknik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.

Banyak orang mengira lompat batu ini untuk menetukan kedewasaan seseorang dan berhak menikah. Sebenarnya bukan itu tujuan aslinya.

Jaman dulu, Nias masih terbagi dalam berbagai suku yang dibentengi oleh bambu runcing. Ketika ada perang, maka sulit sekali menembus masuk ke dalam perkampungan.

 photo DSC_0156_zps6543adcf.jpg
berhasil dilompati sodara-sodara
 photo DSC_0157_zps0811f929.jpg
masih cemen? tambah satu orang diatasnya

 photo DSC_0159_zps43c55c2f.jpg
speechless

Akhirnya, diciptakanlah lompat batu ini, sebagai sarana latihan untuk prajurit agar bisa melompati pagar suku lain. Untuk menyerang dan juga untuk melarikan diri kalau ditawan. Karena jika mereka telah ditawan, maka sudah pasti akan dipenggal.

Tapi gua pribadi, gak berani. Gua masih sayang sama selangkangan gua. Ingin terlihat keren karena berhasil lompat batu, eh tau-tau titit gua diamputasi. Jadi maaf saja. Tapi kalau lo mau coba, boleh saja. Mungkin titit lo terbuat dari baja.

 photo DSC_0101_zps5d1a3ca2.jpg
ini aktornya :D

Begitu terkenalnya tradisi lompat batu ini membuat tradisi ini pernah diabadikan pada pecahan uang seribu rupiah pada awal tahun 1990-an dengan gambar seorang pria Nias yang sedang melompati tugu batu.

sumber : klik gambar

Sebenarnya masih banyak kebudayaan Nias yang lain yang tidak kalah keren. Seperti batu-batu yang diukir seperti kepala naga, rumah adat yang didalamnya dipenuhi taring babi. Dan masih banyak lagi.

Kalau mau lebih jelas, silakan datang aja ke Nias. Lokasi wisatanya juga oke. Pantainya masih banyak yang biru dan jernih. Cocok untuk snorkeling. Atau buat yang suka surfing, silakan ke pantai Sorake dan Lagundri. Banyak turis yang merekomendasikan tempat itu karena ombaknya tinggi. Sudah sering juga diadakan lomba berselancar di pantai tersebut.

Dan tenang saja, masyarakatnya ramah-ramah kok. Selagi lo menghargai mereka, mereka juga akan menghargai. Tapi tetep sewa guide ya. Walaupun pulau nias tergolong kecil, lo tetep bisa nyasar dan berakhir masuk ke dalam hutan. Utamakan juga keselamatan dan keamanan. Mengenai pesona alam Nias, mungkin akan gua ceritain di postingan lain.


Sekian postingan dari gua. Yuk, saling berbagi cerita tentang budaya daerah lo di kolom komentar. atau ada yang sudah pernah ke Nias? Silakan berkomentar juga.

Ya’ahowu.
Lanjut Baca Terus >>>

Monday, March 3, 2014

Pencarian Harta Karun 2 #Cerpen (tamat)



Buat yang belum baca part 1, silakan baca disini




“Kampret nih raja. Taunya cuma nyuruh aja. Mending kalau dikasih cewek. Lah ini cuma tongsis,” keluh Njuk. Dia menyeka peluh yang bercururan di dagunya. “Mana panas banget lagi.”

“Sudahlah Njuk. Jangan ngeluh terus. Makin panas nih. Mending kau cari pohon beringin yang berbunga sakura.”

“Hah? Mulai mengkhayal kau karena panas kan? Mana ada pohon beringin berbunga sakura?”

“Nih liat kalau gak percaya.” Ling menyodorkan gulungan petunjuk ke depan hidung Njuk. “Percaya kau sekarang kan? Nah cepat cari.”

Njuk menggaruk kepalanya. “Aneh-aneh aja pohon jaman sekarang. Gimana caranya pohon beringin berbunga sakura. Iseng bener yang ngawinin mereka.”

Ling memandang berkeliling. Tidak ada pohon beringin sejauh mata memandang. Dicermatinya lagi petunjuk di gulungan. Beringin Sakura akan menampakkan dirinya kepada orang yang tepat.

Orang yang tepat? Apa maksud gulungan ini? Ling berpikir keras. Saking kerasnya dia sampai kentut.

Sementara Njuk juga tengah mencari sesuatu. Dia celingak-celinguk. Tiba-tiba matanya tertumbuk kepada sebatang pohon. “Ini dia nih yang aku cari.” Njuk tertawa girang.
Dia segera berlari ke arah pohon itu. Begitu sampai, dia langsung membuka celana dan..
Serr.... Njuk mengencingi pohon itu.

“Ahh. Leganya. Eh apaan nih bunga di kepalaku? Warna pink. Bunga yang aneh. Seperti sakura. Sakura?”

Njuk menengadahkan kepalanya. Mulutnya ternganga melihat sekumpulan bunga sakura yang sedang mekar. Berwarna pink. Memancarkan keindahan yang sulit diucapkan. Bagai gulali yang digantung di pohon. Semuanya adalah bunga. Tidak ada satupun daun yang menggantung. Njuk merasa seperti di surga.

“Ling. Coba lihat apa yang baru kutemukan,” teriak Njuk.
Ling berlari menuju tempat Njuk. “Hahaha. Akhirnya ketemu juga. Dan Njuk, kau belum menaikkan celanamu. Sepertinya air kencingmu telah memancing pohon ini keluar.”

Njuk cengengesan. “Nanti air seniku bakal kujual di kampung. Sebagai pupuk alami. Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

Ling melihat gulungan. “Berjalanlah 100 meter ke arah utara dari pohon.”
“Baiklah. Tunggu apa lagi. Ayo kita kemon.” Njuk segera berlari saking semangatnya.

*100 meter kemudian*
“Berjalanlah sambil jongkok, ke arah timur, sejauh 200 meter.”
Njuk masih bersemangat mengikuti petunjuk gulungan tersebut.

*Setelah 200 meter*
“Merayaplah ke arah selatan sejauh 300 meter”
Njuk dan Ling mulai kehabisan tenaga. “Ini yang terakhir, Njuk” Ling menyemangati.

*Setelah 300 meter yang melelahkan*
“Kampret. Kutu busuk. Dinosaurus. Brontosaurus. Babi ngepet. Godzilla bunting. Ini kan pohon yang tadi.” Njuk mencak-mencak.
“Kita istirahat dulu sebentar. Yang buat petunjuk ini kayaknya pengen menguji kita." Ling menyenderkan badannya di pohon sambil mengipasi wajahnya.

“Menguji tai kucing. Capek-capek keliling, eh taunya balik kesini lagi. Argghhhh.” Njuk meninju pohon beringin di hadapannya. “Aduhh. Keras banget nih pohon.” Dia meringis menahan sakit.

Ling hanya tersenyum melihat tingkah laku kakaknya itu. “Makanya, mending istirahat dulu. aku bawa bekal nih. Kita makan dulu.”
“Haa. Makan. Asiikkk.” Emosi Njuk menguap.

***

Setelah leyeh-leyeh selama satu jam, mereka segera mencari tanda dimana harta dipendam. Ling membaca gulungan itu lagi. “Carilah tanda x dibatang pohon.”
Njuk dan ling mencermati batang pohon itu baik-baik.

“Nih ketemu nih.” Njuk berteriak girang sambil menunjuk tanda x dibatang pohon.
“Wah iya bener. Tapi kok baunya aneh ya.” Ling mendekatkan hidungnya ke batang pohon.

“Hehehe.” Njuk cengar-cengir. “Kayaknya ini tempat aku kencing tadi deh.”
“Wuanjirr.” Ling buru-buru menyingkir. “Bisa terbakar nih paru-paruku. Sebagai hukumannya, kau yang gali. Gali sejauh sepuluh meter ke dalam.”

“Sepuluh meter? Itu nyari harta karun apa mau buat sumur?” Njuk sewot.
“Udah cepetan. Gak usah banyak cincong.”
Njuk manyun. Tapi diturutinya juga. Dia segera mengambil sekop yang tiba-tiba ada di sampingnya. Dan mulailah dia menggali.

Setelah hampir setengah jam, Njuk berteriak. “Oii. Ling. Peti harta
nya udah ketemu nih. Bantu angkat. Berat nih.”

“Mana..mana. sini aku angkat. Kira-kira isinya apa ya?” Ling langsung bersemangat.
“Kita coba intip aja yuk.” Njuk mengedipkan matanya.
“Tapi raja udah berpesan jangan dibuka. Nanti kita gak dapat hadiah.” Ling mengingatkan.

‘Ah, hadiahnya cuma tongsis doang. Buat apa. Lagian dia kan gak tau. Ya ya ya? Aku penasaran nih.” Njuk terus menggoda.
Ling menggigit bagian bawah bibirnya. Dia ragu. Dia harus memilih antara rasa ingin tahu, atau menjalankan perintah.

Njuk mulai membuka peti harta itu.
PLAKK. Njuk kaget. “Apa-apaan sih. Main pukul aja. Sakit tau.”
 “Perintah adalah perintah. Nanti di kerajaan, kita bisa lihat juga kok.”
“Iya deh. Dasar nona-yang-tidak-bisa-diajak-sekongkol.”

Mereka berdua memanggul peti itu sampai ke kerajaan. Ketika hampir sampai di depan kerajaan, raja telah menunggu mereka di gerbang kerajaan. Tangannya terbuka lebar menyambut mereka.

“Akhirnya kalian datang juga. Aku udah gak sabar melihat isi harta karun ini.” Raja menggosok-gosokkan kedua tangannya. “Turunkan perlahan-lahan.”

Raja menatap peti harta di depannya. Kira-kira ada berapa milyar nilai harta ini.
Perlahan, dibukanya peti harta itu. Njuk memandang dengan bersemangat. Ling bersiap-siap memotret.

Cahaya kuning memancar ketika peti itu dibuka. Ini pasti emas berkilo-kilo. Tapi cahayanya semakin meredup seiring kotak itu terbuka semua.
Raja melongokkan kepalanya ke dalam peti. Begitu juga dengan Njuk.

“Kosong.” Ucap Njuk dan raja berbarengan. Raja meraba-raba dalam peti. Tangannya menyentuh sesuatu di dasar peti. Dia mengambilnya. Ternyata sebuah gulungan.

Gulungan yang bertuliskan “Zonk. Maaf ye. Kami udah duluan menemukan harta ini. Silakan coba lagi di tempat lain. Anda kurang beruntung.Tertanda Don Brawn."
Raja langsung terduduk lesu. Njuk berteriak keliling kerajaan sambil buka celana,  "Argghhh. Kampret," teriaknya. Sementara Ling merekam tingkah laku keduanya. Lumayan,buat di upload ke YeiTube.


Nah, berakhir sudah pencarian harta karunnya. Gimana menurut kalian? bagus? hancur? apapun itu, silakan kritik sepuasnya di kolom komentar ya

Lanjut Baca Terus >>>

Wednesday, February 26, 2014

Pencarian Harta Karun #cerpen



Cuaca hari ini sangat terik. Matahari bersinar dengan garang. Di sebuah kerajaan antah berantah, panas juga menyengat. Raja menyeka peluh yang membanjiri keningnya. Meskipun dia telah dikipasi oleh dayang-dayang, tetap saja dia kepanasan.

Namanya adalah Raja Zega. Dia mendapat kerajaan ini ketika sedang menggosok voucher hp. Setelah dia memasukkan kode rahasia, maka dia mendapat sms dari “Mama minta-minta” bahwa dia telah memenangkan sebuah kerajaan. Suatu cara yang aneh untuk mendapatkan kerajaan.

Namun, belakangan ini dia sering merasa gelisah. Geli geli basah. Karena mengompol.
Sebenarnya dia gelisah karena kedatangan seorang kakek dua hari yang lalu. Kakek itu mengatakan kepadanya kalau di kerajaan ini ada sebuah harta karun. Harta yang akan menjadikan penemunya sebagai orang terkaya di dunia. Kakek itu memberi raja sebuah gulungan petunjuk, tempat harta karun itu dipendam. Setelah memberikan gulungan itu, sang kakek langsung menghilang tak berbekas.

Raja Zega kaget bukan kepalang. Setelah mendapat kerajaan secara cuma-cuma, sekarang dia mendapat petunjuk harta karun. Dia benar-benar beruntung. Nafsu serakahnya menggelora, aku harus mendapat harta karun ini, batinnya.

“NJUK...... LING.......” Teriakan raja membahana ke seluruh istana. Dia memanggil dua orang prajurit kepercayannya. “Huh, dimana sih dua orang ini. Ketika dibutuhkan malah gak ada. Gak dibutuhin, eh wara-wiri di depan mata.”

Njuk dan Ling adalah dua orang saudara kembar yang sama sekali tidak mirip. Mereka bagai pinang dibelah duren. Njuk memiliki badan pendek, namun kekar. Dengan tato “Njuk sayang mama” yang melintang di punggungnya. Wajahnya lumayan. Lumayan ancur.

Sementara Ling, seorang perempuan yang cantik luar biasa. Dia adalah mantan model Victoria’s Sakit. Wajahnya dipahat sempurna, memiliki sepasang mata berwarna Hazel, yang sanggup membuat pria manapun mabuk kepayang. Sayangnya, Ling adalah seorang Hemaphrodite. Memang tidak ada makhluk yang sempurna.

Tidak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki. Njuk dan Ling berlari tergopoh-gopoh menghampiri raja. Njuk berlari sambil sesekali menaikkan celananya yang melorot. Sementara Ling berlari sambil memegang smartphone. Dia lagi asik twitteran. Dia ngetwit “Huh raja rese. Gak tau apa gua lagi nonton Putri yang Dibanting. Ganggu aja.”

Setelah sampai di hadapan raja, mereka segera bersujud.

“Ampun, Paduka. Ada apa manggil kami sambil teriak. Kan bisa Ping aja. Sekarang jamannya Burukberry Messanger,” protes Njuk.
“Iya Paduka. Kita harus mengikuti perkembangan jaman,” tambah Ling bersemangat.
“Ping pang ping, gundulmu. Kalian kira aku mau download kayak gituan. Hih. Mending aku download camera 360. Biar makin cakep.”

Jeprett. Raja langsung foto selfie. Mulutnya dimonyongin, matanya melotot. Persis kayak kuda nil lagi PMS. Dia senyum-senyum melihat hasil jepretannya.

“Ngomong-ngomong, saya mau memberi tugas baru untuk kalian, untuk mencari harta karun terpendam di kerajaan ini. Harta karun ini tidak ternilai harganya. Kalau kalian bisa menemukannya, kalian saya beri hadiah.”

“Beneran Paduka? Hadiah apa kira-kira.” Mata Njuk langsung berbinar mendengar kata hadiah. Maklum masa kecilnya  kurang bahagia. Setiap ulang tahun tidak pernah dirayakan.

“Saya akan beri kalian ini.” Raja menjulurkan sebuah tongkat berwarna hitam. Dengan semacam kotak penyangga di bagian atasnya.

Njuk dan Ling bertatapan. Mereka bingung.

“Kalian gak tau apa ini? Huh, dasar kudet. Ini namanya tongsis, cinnn. Bisa buat foto-foto. Kayak gini nih.”
Jepret. Raja kembali berfoto dengan tongsis.
Njuk dan Ling muntah. Mereka ingin segera pergi dari tempat ini.
“Dimana kami harus mencari harta karun itu, Paduka,” tanya Ling.
Raja melempar sebuah gulungan. Njuk menangkapnya dengan sigap. Kemudian membukanya lebar-lebar, “Dear diary. Hari ini aku sedih banget. Aku baru diputusin sama Dina. Dia dilarang pacaran oleh ayahnya. Katanya status sosial kami berbeda. Aku mau bunuh diri aja, diary.”

“Eehh. Kampret. Itu diaryku. Pake dibaca segala lagi. Sini kembalikan.” Raja merebut gulungan itu dengan kasar.
Njuk dan Ling tidak bisa menahan tawa. Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Muka sang Raja memerah kayak tomat.

Njuk tertawa paling keras, “Hahahahahakkkk...kkk.kkk.”

Raja menyumpal mulutnya dengan gulungan yang berisi petunjuk asli. “Gunakan gulungan itu sebagai petunjuk untuk mendapatkan lokasi harta. Dan segeralah bawa harta itu kesini. Ingat, jangan buka harta karun itu sebelum sampai disini. Kalau kalian melanggarnya, kalian akan saya taruh di ruangan yang penuh dengan bunga Rafflesia Arnoldi,” ancam raja.

Njuk bergidik.
“Baik Paduka. Kami pergi sekarang.” Ling mengangguk takzim.
“Khamhi undhur dhiri bhaghindha.” Njuk ngomong tidak jelas karena gulungan petunjuk masih nyangkut di mulutnya.

Raja Zega mengangguk.


Setelah Ling dan Njuk keluar dari pintu, raja mengambil sebuah gulungan dan menulis, “dear diary.......”



Bersambung ke bagian 2....



Part 2 nya masih dibuat nih. sabar nunggu ya. hehe. jangan lupa kasih kritik dan saran yang membangun untuk cerpen ini. terimakasih :)
Lanjut Baca Terus >>>

Tuesday, February 18, 2014

Kehebohan yang Bernama Tugas



Kehebohan ini bermula ketika dengan tengilnya dosen gua bilang, “Arman, dimana tugas kelompok kalian?” Sambil tangannya ditengadahkan, kayak juragan lagi nagih setoran.

Gua berusaha mengumpulkan semua ingatan gua mengenai keadaan tugas ini. Dimana nih tugas nyungsep ya? Kayaknya nih dosen ngawur deh. Atau gua yang mendadak amnesia.

“Kalau kalian tidak mengumpulkan tugas ini, maka nilai UAS kalian kosong.”
DEG. Perkataan itu langsung menyadarkan gua. Ini adalah tugas yang bersifat kegiatan di luar kelas. Dan waktu itu gua dan kelompok gua memilih mewawancarai mahasiswa lain di kampus. Tugas ini udah diberikan sejak tiga bulan yang lalu, dan dengan luar biasanya kami belum mengerjakan satu pun. Kami memang mahasiswa penggila deadline.

Gua balik badan. Memandangi kelompok gua satu-persatu. Ada yang main hp, ada yang ngupil, ada yang lagi pacaran, ada yang lagi garuk ketek. Mampus. Kayaknya IP gua bakal menjerit. Bisa-bisa gua dijadiin mumi sama Mak.

“ Tampaknya kalian belum mengerjakan ya? Saya berikan waktu satu minggu untuk mengerjakan ini. Kalau tidak siap, tenang saja. Kita tetap akan bertemu. Tahun depan.”
Gua segera mengadakan rapat darurat. Membahas mengenai tugas ini.

“Menurut kalian, kita bisa gak ngerjakan ini dalam waktu seminggu?” tanya gua.
“Kayaknya kita pasrah aja deh. Tuhan tau yang terbaik untuk kita,” kata Sam. Rasanya gua pengen jorokin dia ke dalam sumur.

“Kita coba aja dulu. Kita pasti bisa kok.” Cindy menguatkan hati kami. Tapi entah kenapa hati gua tetap rapuh. Mungkin karena jomblo. Oke, lupakan ini.

Kami akhirnya sepakat untuk mengerjakan tugas ini. Maka minggu tenang yang seharusnya digunakan untuk bersantai di rumah, malah kami gunakan untuk mengerjakan tugas.

Mulai dari meminjam kamera video ke pihak fakultas. Dimana cobaan datang bertubi-tubi. Ketika kamera sudah ditangan, gua baru sadar kalau batrenya gak ada. Gua lalu balik ke kantor untuk mengambil batre. Penjaganya natap gua kayak “Nih, anak ganggu gua lagi nonton bok*p aja.”

Ketika kami udah siap-siap mau wawancara, ternyata memory card kameranya gak ada. Duh, Gusti. Masak gua harus ketemu sama penjaga mesum itu lagi.

Akhirnya, dengan menahan malu, gua kembali ke kantor untuk mengambil memory card. Kayaknya penjaga tata usaha, udah mau nelan gua bulat-bulat karena gangguin dia mulu. Mukanya ditekuk, bibirnya dilipet, matanya keluar. Seram deh pokoknya.

Kami pun mewawancarai tiga orang mahasiswa. Konsep kegiatan kami adalah, ketika mengedit video, kami akan mengubah pertanyaannya, sehingga jawaban terdengar ngaco dan lucu.

Awalnya, gua kira ini adalah tugas yang mudah. Mudah banget emang. Wawancara doang. Pas mulai mengedit video, bencana datang.

Gak ada seorang pun dari kami yang pinter ngedit video. Dengan kemampuan pas-pasan kami berusaha membuat video yang bagus. Proses wawancara hanya 2 jam, mengedit sampai dua hari. Dan hasil video cuma 2 menit. Itu kampret banget emang. Gua baru tau rasanya kerja di bagian broadcasting.

Tapi dari jerih payah itu, gua belajar banyak hal.
Gua juga belajar, ketika wawancara kita harus memberi jeda ketika mengajukan pertanyaan. Jangan langsung menyambar jawaban narasumber. Supaya, ketika diedit maka suara kita tidak ikut terdengar menimpa jawaban narasumber.

Kalau kamera yang lo gunakan enggak didukung sama mikrofon, maka lo harus sebisa mungkin mendekatkan kamera dengan narasumber. Supaya suaranya kedengeran. Dan satu lagi, pastikan narasumber enggak mengunyah sesuatu. Ntar, malah gak jelas dia lagi ngomong atau malah nyinden.

Dan buat lo yang penasaran, inilah dia hasil kegiatan kami. Masih amatir dan jelek banget. Editannya juga masih parah. Maklum, inilah pertama kali kami ngelakuin hal semacam ini.

Kayaknya gua bisa tersenyum ketika melihat KHS semester ini.


Lanjut Baca Terus >>>