Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Monday, February 22, 2016

3 Artis Indonesia Yang Menginspirasi Gaya Hijab Wanita Indonesia

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia sehingga Indonesia sering dijadikan referensi negara islam lainnya karena kebanyakan pemeluk islam di Indonesia adalah penganut islam modern. Maka hal ini pun juga menularke fashion ala islami, terutama para wanita. Gaya hijab wanita Indonesia merupakan gaya hijab paling fashionable di dunia sehingga banyak dari wanita kita yang punya inovasi-inovasi bagus untuk bergaya hijab yang stylish serta menarik.

Nah, tentu hal ini biasanya dimulai oleh para selebritas yang menciptakan trendsetter gaya hijab yang fashionable sehingga ditiru oleh banyak wanita di Indonesia. Banyak dari artis kita yang mempunyai gaya hijab trendy, namun hanya 3 artis ini yang paling menginspirasi. Lalu siapakah mereka? Yuk kita cek di bawah :


Dewi Sandra



Anda tentu tahu dengan Dewi Sandra, seorang penyanyi yang sudah lama malang melintang sebagai penyanyi professional. Dewi Sandra memutuskan untuk mengenakan hijab pada tahun 2012 lalu. Saat mengenakan hijab, Dewi Sandra tampil dengan gaya hijab yang sangat stylish sehingga sangat menginspirasi wanita Indonesia. Selain itu, Dewi Sandra juga semakin cantik saat mengenakan hijab, ditambah lagi ia didapuk menjadi ambassador produk kecantikan wanita muslimah yang sangat terkenal, tentu hal ini semakin membuat Dewi Sandra jadi lebih menginspirasi. Jika Anda ingin bergaya layaknya Dewi Sandra, Anda bisa cek promo belanja online hijabenka yang banyak menyuguhkan aksesoris hijab yang sangat cocok untuk wanita muslimah.

     Dian Pelangi


Rasanya Anda tidak perlu dijelaskan lagi tentang nama ini karena ia sudah sangat terkenal di dunia fashion muslimah. Wanita yang satu ini merupakan selebritas yang terkenal akan inovasi gaya hijabnya sehingga rancangan gayanya banyak menjadi favorit wanita-wanita muslim Indonesia. Selain itu, desainer gaya hijab modern ini juga sudah sering diundang ke acara fashion internasional, seperti London Fashion Week 2015 dan New York Fashion Week Fall Winter 2015.

Inneke Koesherawati


Yang satu ini merupakan artis lawas yang kerap menggunakan pakaian seksi sewaktu ia masih remaja dulu. Namun, kini Inneke total merubah gayanya dengan berhijab yang sangat fashionable. Alhasil, Inneke terlihat sangat cantik dan anggun ketika mengenakan hijab sehingga membuat orang sangat terpukau oleh gayanya saat ini. Dengan begitu Inneke pun sering dijadikan referensi terbesar gaya hijab wanita Indonesia masa kini.

Promo Hijabenka juga bisa anda dapatkan di shop.excite.co.id. Anda juga bisa berkesempatan mendapatkan produk-produk menarik dari Excite Shop, caranya mudah, anda hanya diharuskan melakukan register dan berbelanja online melalui situs shop.excite.co.id.

Itulah 3 artis yang mengaplikasikan gaya hijab dengan gaya terbaik sehingga paling banyak mendapat respon dari wanita-wanita Indonesia. Dengan gaya hijab fashionable, artis ini sukses membuat pengaruh besar dalam gaya muslimah wanita Indonesia. Nah, apakah Kamu juga ingin seperti mereka? Maka dari itu segera dandani gaya hijab Kamu sekarang juga.
Lanjut Baca Terus >>>

Monday, December 14, 2015

[Review Lagu] Kura-Kura - Tamma

Masih inget nggak dengan lagu Tuhan Sedang Bercanda,yang pernah aku review disini ? Coba deh dicek lagi artikelnya, dan didenger ulang lagunya. 

Udah inget?

Kata penyanyinya sih, single Tuhan Sedang Bercanda jadi hits setelah kureview disini. Ah ada ada saja. Bisa banget bikin orang geer. Cowok emang pande banget ngegombal. Hih.

Tapi, kalaupun bener, syukur deh. Senang bisa membantu orang lain.

Sekarang, Tamma udah ngeluarin single terbarunya, yang berjudul Kura-Kura. Dan lagi-lagi, karena aku baik hatinya tumpe-tumpe kayak susunya Jupe, aku kembali ngereview lagu tersebut.



Kira-kira kayak gimana ya lagunya? Langsung aja deh kamu cek di bawah ini.





Masih kurang menghayati? Coba sekarang diputer ulang sambil menyanyikan liriknya.


Verse 1

Sudah hentikan gundah
Tentang kisah berdua
Dengar suara hati
Bukan kata-kata mereka

Verse 2

Untuk jalan bersama
Butuh kematangan diri
Sabarlah sejenak
Percayakan semua
Pada sang waktu

Chorus:

Tak baik bila diburu rasa
Cinta bukan ajang adu cepat
Biarlah melaju pelan bagaikan kura-kura
Ku pastikan kita menyentuh garis akhir

Bridge:

Yakinkan ragu ini yang terbaik

Chorus 2X

Gila banget, ya. Dalem.

Jadi, menurut penafsiranku (ini penafsiran bebas, ya. Karena menilai karya seni memang memiliki interpretasi masing-masing), lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang sering bertengkar. Pertengkaran mereka sebenarnya sepele. Salah satu dari mereka kebelet nikah. Sementara yang satu belum siap. Setelah diselidiki, ternyata keinginan untuk kebelet nikah ini bukan keinginan pribadi, tapi tekanan dari banyak pihak di sekeliling mereka.

Maka yang belum siap tadi, berusaha menenangkan hati pasangannya dengan lagu ini. Dia berkata kalau cinta itu bukan perlombaan. Bukan soal siapa yang paling cepat merid, paling cepat kawin, paling cepat keluar. *eh

Tapi, cinta itu adalah proses. Proses untuk saling mengenal, saling menguatkan. Meski lamban, namun mereka akan mencapai garis akhir, kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Lihat deh berapa banyak kasus pernikahan dini yang terjadi. Di awal mungkin akan baik-baik saja, tapi makin lama perselisihan nggak tertahankan lagi. Akhirnya cerai deh. Mana udah punya anak lagi. Kan kasihan anaknya. Belum tau apa-apa, udah jadi keluarga broken home. Jadi, lebih baik perlahan tapi pasti, daripada buru-buru tapi bubar jalan.

Asalkan sampe garis akhirnya nggak kelamaan juga. Keburu diambil sama orang lain kalau kelamaan.

Kritik untuk lagu ini. Eummm. Menurut telingaku sih, ya. Masih ada pemaksaan diri di beberapa nada overtune. Jadi, kedengeran menyiksa gitu. Nggak tau deh dengan telinga pendengar lain.

Kritik lain, adalah sampul lagunya. Masalah ini juga pernah kukatakan ke Tamma. Yaitu gak adanya gambar kura-kura di sampul lagu tersebut. Dan alasannya kurang berseni kalau kura-kura dimasukin ke situ. Ya, menurutku, sih bisa diakali. Mungkin bisa dikasih gambar kura-kura kecil lagi makan daun. Kura-kura berupa siluet. Kura-kura lagi kawin.

Atau, sampul yang bergambar sepasang kekasih lagi berpengangan tangan sambil menatap bulan, bisa diedit dengan sepasang kekasih dimana si cowok ngasih kura-kura ke si cewek. Terus kura-kuranya gigit tangan si cewek. Fail.

Gitu sih yang muncul di pemikiran absurdku. Kalau menurut kamu gimana?

Rencananya juga, ntar, kalau aku nikah, aku bakal undang Tamma untuk menyanyikan lagu ini di pernikahanku. Dengan suara ngebass dan adem, alunan melodi pop-jazz, wiihhh, makin dapet deh momennya. Sekalian juga sebagai kode ke calon istri, jangan kebanyakan minta pas masih di awal pernikahan. 

Tenang aja, ntar tanpa diminta, aku bakal beliin berlian kok untuk kamu, supaya kamu gak perlu malu menunjukkan jari manismu. Bakal beliin baju-baju mahal supaya kamu gak perlu kalah gengsi dengan ibu-ibu kompleks. Bakal beliin make up halal supaya wajahmu tetap mempesona. Dan bakal beliin kasur terbaik supaya kamu bisa melayaniku dengan lebih baik. *mikir keras.

Itung-itung sebagai balas jasa, lah karena udah kureview secara sukarela. Muehehehe. *gak mau rugi.

Bentar, ini kok malah curhat ya.

Oke. Fokus.

Lagu ini cocok juga untuk yang jomblo. Nggak usah sedih kalau kamu masih sendiri dalam waktu yang cukup lama. Mereka yang meledek belum tentu lebih bahagia dengan pasangan mereka.

Ahzeg.

Kamu bisa download lagu Kura-Kura dari Tamma disini.

Tamma bilang, 100 orang pertama, bisa mengunduh lagu Kura-Kura secara gratis. Wow. Kapan lagi bisa dapat lagu resmi secara gratis? Buruan unduh.

Sebagai ucapan terima kasih, kamu bisa bantu share link sc nya atau link artikel ini ke media sosial yang kamu punya. Membuat orang hebat terkenal gak ada ruginya kok. Jadiin Dijah Yellow terkenal aja kamu bisa, masa yang terbukti punya karya, gak bisa kamu jadiin terkenal?

Atau kamu juga bisa mengaransemen ulang lagunya, atau membuat cover lagunya. Bebas. Kalau aku cukup pintar dalam bermusik, aku pasti udah ngelakuin itu. Soalnya liriknya terlalu menggoda.

Sayangnya, kemampuan bermusikku cukup jauh. Jauh di bawah rata-rata. Bedain do sama re aja gak bisa. Sedih emang.

Setelah mendengar lagu Kura-Kura, apa yang kamu rasakan, atau apa yang terlintas di benakmu? Share di kotak komentar, ya.

Sekian artikel untuk kali ini.

Salam Asal






Lanjut Baca Terus >>>

Thursday, July 23, 2015

[Review Novel] Ayah

Siapa yang pernah ke pasar malam bareng ayah?


Judul Buku          : Ayah
Penulis                 : Andrea Hirata
Penerbit               : Bentang Pustaka
Tebal                    : 400 Halaman
Harga                   : Rp 81.500,00

"Ayah" adalah novel terbaru dari Andrea Hirata. Terbitnya novel ini udah kutunggu sejak tahun 2011. Waktu itu aku berkunjung ke website Andrea dan menemukan informasi kalau dia akan menulis sebuah buku yang berjudul “Ayah”. Kabarnya, dia menulis buku ini ketika sedang kuliah di Iowa. Akhirnya, baru terbit di pertengahan 2015. Hampir 4,5 tahun menunggu buku ini terbit. Lebih lama mana dari penantian kalian akan kekasih? Eakk.

Awalnya, aku mengira buku ini akan bercerita tentang Ikal dan Ayahnya, seperti dalam novel Edensor. Ternyata, nggak. Novel ini ditulis berdasarkan kisah Amiru, seorang sahabat yang dikenal Ikal ketika dia masih bekerja di kantor pos.

Rencananya, aku akan membaca buku ini satu bab perhari. Menikmatinya pelan-pelan. Memperlakukannya seperti kitab suci. Yah, ternyata itu hanya angan saja. Semakin dibaca malah semakin ketagihan dan tau-tau udah tamat. Dan ketika udah tamat membaca buku ini, aku tiba-tiba menggunakan bahasa Indonesia yang kaku, sesuai eyd dengan kalimat mendayu-dayu ala melayu. Aku kok mudah banget dipengaruhi  :’)

Novel diawali dengan Sabari yang sedang galau karena ditinggal pergi istrinya, Marlena. Kucingnya, Abu Meong, juga ikutan galau karena ditinggal pasangannya, Marleni. Kedua makhluk itu saling meratapi nasib. Bab selanjutnya bercerita tentang Amiru yang senang memperhatikan ayahnya, Amirza, berkutat dengan radio bututnya. Bagaimana ayahnya yang hanya tamatan SMP, berdasarkan logika ilmiahnya sendiri, berhasil membuat suara radio menjadi lebih jernih dengan bantuan kandang bebek.

Bab berikutnya bercerita tentang Markoni, anak orang kaya yang bengal. Baru kelas satu SMP sudah merokok, ketika STM makin gila, dan ketika disuruh kuliah D-II, bukannya membawa ijazah, dia malah membawa istri. Setelah ayahnya meninggal, hidup Markoni pun berantakan. Hingga suatu saat dia mendapat ilham ketika melihat anak-anak sekolah. Otak bisnisnya jalan, anak-anak sekolah pasti membutuhkan buku dan segala hal berbau percetakan. Maka tanpa membuang waktu dia segera memulai usaha percetakan. Percetakan batako. Jenius memang.

Bab-bab awal emang gak terlalu panjang. Cuma sekitar tiga atau empat halaman.
Tiga tokoh tadi, melalui lika-liku kehidupan, jalinan nasibnya akan saling bertemu. Semakin dibaca, maka kita akan semakin paham apa maksud Andrea dengan pembukaan novel seperti itu. Alur novel ini menggunakan alur campuran. Awalnya mundur, setelah di pertengahan barulah melaju seperti kereta api.

Menurutku sendiri, judul Ayah kurang tepat disandang novel ini. Karena novel ini kebanyakan bercerita tentang perjuangan Sabari dalam mendapatkan cinta Marlena. Cinta kepada lawan jenis lebih ditonjolkan ketimbang cinta kepada anak. Porsi cerita ayah dan anak tidak sampai setengah novel. Malah mungkin Cuma 1/3 isi novel. Selebihnya cinta ala-ala anak SMA. Tapi, bukan kayak ftv. Kisah cinta ini lebih memotivasi dan mengajarkan akan kesetiaan. Sekaligus kegilaan.

Dalam novel ini, kamu akan menemukan banyak sekali puisi. Aku gak tau, apakah ini puisi yang dibuat oleh Andrea atau murni karangan Sabari. Yang penting puisinya benar-benar bagus. Contohnya kayak gini :

Datangkan seribu serdadu untuk menembakku !
Bidikkan setiap senapan, tepat ke ulu hatiku !
Langit menjadi saksiku bahwa aku di sini, untuk mencintaimu !
Dan biarkan aku mati dalam keharuman cintamu...

Coba bacakan puisi itu ke gebetan. Behhh, bakal klepek-klepek dia kayak sempak diterbangkan angin. Puisi itu dibacakan Sabari ketika perpisahan SMA.
Ada lagi puisinya ketika baru masuk SMA

Cinta adalah mahkota puisi
Musim adalah giwang puisi
Hujan adalah kalung puisi
Bulan adalah gelang puisi
Cincin adalah perhiasan

Luar biasa. Benar-benar menakjubkan. Sehabis membaca novel ini, jiwa puitis kalian pasti langsung menggelegak.

Komedi khas Andrea masih tetap muncul. Dengan majas hiperbola, metafora dan ironi yang sangat memikat. Benar-benar karya sastra kelas tinggi. Contohnya kayak gini,

“Perempuan cantik memang suka plinplan, itu merupakan bagian dari kecantikan mereka. Aku sendiri punya pengalaman yang sama denganmu. Jadi, aku mengerti perasaanmu. Kita senasib.”
“Pengalaman dengan siapa, Kun?”
“Siapa lagi? Shasya!”
“Pengalaman bagaimana?”
“Ya, aku bingung karena Shasya selalu plinplan. Hari ini dia bilang tak suka padaku, esoknya bilang benci, esoknya lagi bilang muak. Sungguh tak punya pendirian. Yang benar yang mana?!”

Memang tak akan membuat kita tertawa terbahak-bahak. Tapi, akan memicu saraf-saraf di sekitar bibir untuk tertarik ke atas.

Dalam novel ini, Andrea kembali menegaskan kalau cinta emang bisa bikin orang lain bertingkah gila. Seperti di Novel Dwilogi Padang Bulan, ketika Ikal rela bersepeda puluhan kilometer demi melihat bubungan atap rumah A Ling. Begitu juga di novel ini, kegilaannya kayak gini nih..

Begitu juga jika bertanya. Kerap pertanyaan Sabari tak masuk akal, tak berhubungan dengan pelajaran, pokoknya bertanya. Semuanya agar didengar Lena. Waktu itu guru Fisika menjelaskan teori sifat bayangan pada cermin datar, cekung dan cembung serta segala hitungan runyam sudut-sudut pantul, yang membuat siswa tampak hilang dalam tempat dan waktu. 
Semakin dalam guru menjelaskan, semakin banyak murid yang bingung, termasuk Sabari, tetapi di tengah kebingungan itu dia menunjuk.
“Saya mau bertanya, Pak!” Lantang sekali suara Sabari.
“Silakan, Ri.”
“Apakah Bapak pernah menonton pelem Perempuan Berambut Api?!”
Dan terdengarlah auman yang dahsyat.
“Keluaaaaarr!!!”

Yah, cinta masa SMA emang bisa membuat dunia kita jungkir balik.
Oh ya, salah satu yang kurang kusukai dari buku ini adalah, pujian yang sangat banyak untuk novel Laskar Pelangi. Seakan-akan karya Andrea itu cuma Laskar Pelangi dan yang lain hanya pelengkap saja. Ini justru mengkerdilkan novel Ayah itu sendiri. Pujian untuk novel ini sedikit sekali dibandingkan puja-puji untuk Laskar Pelangi. 1 berbanding 100.

Endorsement ini ada 4 lembar loh.

Kalau gak salah, hal kayak gini juga terjadi di Dwilogi Padang Bulan. Dimana kata pengantarnya oleh seseorang yang aku lupa namanya. Dia menceritakan mengenai kepopuleran Laskar Pelangi di seluruh dunia. Ayo dong move on. Masa yang diingat dari Andrea cuma Laskar Pelangi doang? Laskar Pelangi udah gak perlu lagi puja-puji berlebihan. Laskar Pelangi udah jadi fenomena dalam dunia sastra Indonesia, bahkan dunia. Siapa sih yang gak tau Laskar Pelangi? Kalau gak tau novelnya, paling enggak, tau filmnya. Paling banter pernah dengar lagu “Laskar Pelangi” dari Nidji.

Seandainya puja-puji itu ditujukan untuk novel Ayah, pasti buku ini akan lebih berkelas.

Semoga ini jadi bahan masukan untuk Andrea. Buku-buku Andrea yang lain kan gak kalah bagus. Pasti deh didukung untuk diterbitkan ke dalam banyak bahasa kayak Laskar Pelangi. Novel ini kuberi rating 8/10. Dengan harga Rp 81.500, sungguh sangat layak ditebus di toko buku favorit kamu. Buruan beli.

Mungkin ada di antara kamu yang udah membaca buku ini, setuju gak dengan reviewku? Atau kamu punya pendapat lain? Yuk ceritain di kolom komentar. Jangan lupa juga untuk klik tombol share di bawah, supaya temen temen kamu di media sosial bisa tau.

Sekian artikel hari ini.

Salam Asal


Lanjut Baca Terus >>>

Friday, June 5, 2015

[ Review Film ] Insidious 3



Apa yang lebih menyeramkan dibandingkan menonton film horor? Yak. Nonton film horor sendirian.

Tapi kali ini beda dong. Hohohoh. Aku gak nonton sendirian lagi. Aku nonton bareng temen. Kami nonton berenam. Kalau nonton film genre lain, aku gak masalah nonton sendirian. Tapi kalau nonton horor. Gak deh. Gak lucu aja ntar pas ada adegan serem aku malah megang tangan cewek di sebelah. Harusnya kan aku megang payu**** nya.

Oke skip.

Kalau di cerita yang ini, bioskopnya sepi melompong. Di film yang ini, penontonnya malah berjubel. Penuh sampai ke bangku paling bawah. Kesuksesan dua seri Insidious sebelumnya sepertinya menjadi magnet yang kuat. Tapi, yang bikin males kalau banyak penonton gini, semuanya pada asik megang hape ketika film udah mulai. Pada asik buka-buka chat. Apaan banget coba. Mau nonton apa mau nongkrong. Cahayanya kan mengganggu banget. Mental yang perlu direvolusi.

Insidious 1 dan Insidious 2 kerennya kebangetan menurutku. Jadi, aku menaruh ekspektasi yang cukup tinggi untuk film ini. Terlebih, Insidious 2 menyisakan tanda tanya di endingnya. Ending menggantung. Nah, aku berharap tanda tanya itu bakal terbongkar di Insidious 3.

Film ini diawali dengan Quinn Breinner (Stefanie Scott) yang meminta bantuan Elise Rainier (Lin Shaye) untuk berkomunikasi dengan ibunya yang telah meninggal. Awalnya Elise nolak, tapi dia akhirnya bantuin juga. Tapi, pas Elise mencoba berkomunikasi, ternyata dia melihat sosok lain yang mengerikan. Ternyata Quinn telah mencoba berkomunikasi dengan ibunya sebelum ini. Suatu percobaan yang ternyata didengar oleh makhluk dari dunia lain.

Elise pun gak jadi membantu Quinn. Sejak saat itu, kehidupan Quinn Brenner tidak sama lagi. Berbagai teror dialaminya. Teror yang bikin ngilu. Jadi, yang masih di bawah 17 ++ jangan nonton ini deh.

Film ini settingnya sebelum Insidious pertama. Jadi, Elise cuma kenal Josh kecil. Belum membantu Dalton. Tapi, pas dia bantuin Josh kecil, si hantu gaun hitam itu menghantui Elise. Sejak itu, Elise gak pernah menggunakan bakatnya lagi. Tapi, gegara kasus Quinn, dia akhirnya mendapat keberaniaan untuk melawan si gaun hitam. Satu adegan yang epik menurutku, ketika Elise mendorong si gaun hitam, trus dia bilang, “Come on, Bitch.”

Si gaun hitam ngacir. Satu bioskop langsung pada ngakak. Gak lucu sih pas diceritain gini -_-. Mending nonton aja deh. Hehe.

Tapi, menurutku Insidious 3 masih kurang seram dibandingkan dua pendahulunya. Kalau di Insidious 1 dan 2, aku ketakutan setengah mati ketika setting waktu malam, dan mengembuskan napas lega ketika setting waktu siang. Tapi, di Insidious 3, porsi setting waktu malam terlalu singkat. Cuma satu dua adegan horor.

Dulu, pas abis nonton Insidious 1 dan 2, selama seminggu setiap ke kamar mandi pasti teringat si gaun hitam sialan itu. Mandi jadi gak nikmat. Pengen cepat selesai aja. Nah, Insidious 3, abis keluar dari bioskop aja udah hilang perasaan seramnya.

Suspensenya kurang. Nggak dipelihara secara terus menerus. Jadi, ketika abis dikasih scene horor, berganti ke scene lain yang drama banget menurutku. Ketakutan penonton udah jauh berkurang. Saraf tegangnya udah kendur banget. Ibaratnya abis liat body seksi cewek, ternyata mukanya Dijah Yellow. Yang tadinya konak, langsung KO.

Entah kenapa film ini terlalu banyak adegan dramanya. Aku berharap ketakutan, bukan berharap meneteskan air mata. Mungkin ini karena pergantian sutradara. James Wan tidak lagi menyutradarai film ini. Tapi, diserahkan ke penulis naskah Insidious 1 dan 2, Leigh Whannel. Jadi, imajinasinya berbeda. Eh, aku baru tau kalau ternyata Leigh Whannel itu adalah Specs. Salah seorang kelompok pemburu hantu bersama Tucker. 

Satu yang patut diapresiasi adalah komedinya. Specs (Leigh Whannel) dan Tucker (Angus Sampson) konsisten untuk menghibur dengan tingkah konyol mereka. Apalagi Tucker. Anjir banget ekspresinya.  

Bagian horor cuma mendapat 1/3 dari porsi film menurutku. Teror baru mulai terjadi ketika Elise harus menyelamatkan Quinn di The Further. Kayaknya sih itu terjadi 30 menit terakhir. Kenapa gak dari awal langsung tegang kayak gini coba? Pasti lebih seru.

Salah satu quote yang bikin merinding


Oh ya, ternyata tanda tanya dari ending Insidious 2 gak terungkap di film ini. Kecewa banget. Mungkin baru terungkap di Insidious berikutnya. Film ini kayaknya mau nyaingin Fast and Furious. Bikin sekuel ampe banyak.

Film ini kuberi rating 7/10.

Kalau kamu udah pada nonton belum? Yuk cerita pengalamanmu ketika nonton di kolom komentar. Setuju gak dengan reviewku?

Buat yang belum nonton, silakan nonton. Lumayan lah untuk sekedar kejut kejut jantung.

Sekian artikel hari ini.

Salam Asal.




Lanjut Baca Terus >>>

Monday, May 25, 2015

Youtubejat

Hari ini aku ke bioskop. Mau nyari film yang bisa naikin mood lagi. Biasanya aku nonton di Palladium, tapi hari ini aku nonton di Thamrin. Yang anak medan pasti tau deh dimana lokasinya. Buat yang gak tau, silakan deh googling sendiri. Meski gak ada gunanya juga sih kalian googling.

Aku tertarik banget nonton Youtubers. Menurut beberapa pendapat temen sih, film ini gokil dan kocak abis. Melihat pemainnya, ya kayaknya sih emang lucu. Ada Lopez bersaudara, Marlo, Rayi, dan youtubers lainnya.


Tiket sudah dibeli. Waktunya nunggu waktu pemutaran. Sambil nunggu, enaknya nongkrong dulu. oh ya, seperti biasa aku jalan-jalan sendiri lagi. ya ya ya. Terserah deh mau ngatain apa. -_-

Aku nongkrong di salah satu cafe. Gak usah disebutin deh. Enak aja dia promosi gratis. Aku memesan secangkir viennamese coffee. Entah kopi jenis apa ini. Aku juga gak tau penulisannya bener gitu apa gimana. Penasaran doang sih awalnya.

Kopi datang. Berwujud kopi yang ditaruh krim banyak banget. Tinggi banget itu krimnya. Aku mikir,  “ini mana kopinya, ya?”. Ini minum kopi pake krim, apa ngemil krim pake kopi? Tapi, ya sudahlah, aku nikmatin saja. Kopinya pun kuaduk-aduk, sampe krim dan air kopi bercampur. Ternyata tuh air kopinya cuma setengah gelas doang. Elah, irit banget ini kafe.
Setelah lama diaduk, ini kopi malah berubah bentuk. Dengan air kopi berwarna kecoklatan dicampur krim putih. Ini udah kayak bubur sumsum. Anjir. Kopi jenis apa sih ini? Rasanya sih kayak cappucino gitu.

Kopi habis. Aku masuk ke bioskop.
Daannnn.

Kosong melompong. Cuma aku sendirian yang ada di situ. Okee, mungkin penonton yang lain belum pada datang. Gak lama, sepasang kekasih masuk. Nah, bentar lagi pasti rame deh ini. Seperti lazimnya orang yang pacaran, tentu saja mereka duduk di pojok. Aku duduk di baris yang sama dengan mereka. Cuma agak di tengah. Terpisah sekitar 5 bangku.

Posisinya kira-kira kayak begini

Ternyata, sampai filmnya mulai, penontonnya yaaa cuma kami bertiga. Ini kayaknya pertanda supaya aku cepetan nyari pacar deh. Tiap ke bioskop, ada aja insiden dengan orang yang pacaran. Hih.

Aku mengalihkan pikiran dari orang yang pacaran. Fokus nonton. Filmnya diawali dengan Jovial yang lagi ikutan casting. Dia disuruh mengekspresikan berbagai emosi. Asli, ini kocak banget. Awalan yang bagus.

Kelucuan semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika adegan Andovi berencana mutusin pacarnya. Trus dia latihan sama Marlo. Marlo menaruh jeruk bali di dadanya, trus dielus-elus sama Andovi. Marlo pun mendesah-desah dan merem melek keenakan. Anjir. Gua ngakak abis.

Gak sengaja, aku liat ke kiri, ke arah orang yang pacaran tadi, dan tawaku langsung berhenti.

Mereka berdua lagi ciuman.

Anjir.

Ini bioskop dianggap milik berdua. WOI, ADA MANUSIA DISINI !! WOI !! BIKIN NGIRI AJA.

Mataku kembali ke layar. Marlo mendesah-desah lagi. Aku lihat ke kiri, ada orang lagi ciuman. Ini kok bisa pas banget ya?

Untuk beberapa lama, aku mengabaikan mereka berdua. Kembali fokus dengan film. Dibutuhkan iman yang sangat kuat untuk tidak memalingkan wajah.

Iman itu pun runtuh. Aku ngintip ke kiri lagi, mereka kembali ciuman. French Kiss. Sambil grepe-grepe. Aku lihat ke layar, Ge Pamungkas lagi ngomong, 

“Ikkeh...ikkeeh....Kimochiiii...” 

Duh Gusti, cobaan macam apa ini? Kok nikmat banget?

Aku lihat ke kiri lagi. Ya ampun, itu lidah udah pernah masuk sirkus kali ya. Lincah banget gerakannya. Itu lagi tangannya, beuhh pasti ini cowoknya berdarah pejuang, tangannya gak menyerah untuk bergerilya. Film di layar tiba-tiba menjadi tidak menarik lagi.

Situasi bioskop emang remang-remang, tapi untuk urusan kayak gini, mataku bisa berakomodasi maksimal. Teleskop hubble kalah. Dalam keremangan itu, semua aktivitas mereka terekam jelas di memori. Sayangnya, hapeku gak bisa merekam dalam situasi low light, kalau bisa. Udah jadi artis mereka.

Sehabis menyaksikan mereka ciuman, aku kembali melihat layar. Ada duo serigala lagi goyang dribble.

INI PASTI KONSPIRASI. PASTI.

Film ini yang tadinya cuma bergenre komedi romantis, berubah menjadi komedi romantis mesum. Antara film dan penonton terjalin hubungan timbal balik. Aksi-reaksi.

Mereka beraksi. Aku bereaksi. #KemudianKeras

Film pun usai.

Aku pulang dengan sejuta kebingungan.
Mereka pulang dengan sejuta kenikmatan.

Hayoo, kalau kamu tingkahnya gimana kalau di bioskop? kayak mereka juga gak? 
yuk cerita-cerita di kolom komentar. Jangan lupa bagiin artikel ini ke sosial media kamu, biar yang lain tau.

Salam Asal. 


Lanjut Baca Terus >>>