Hei, Sayang.
Aku hendak menjawab pertanyaanmu waktu itu. Ketika kita sedang duduk berdua di tepi pantai. Menikmati semilir angin dan air kelapa muda segar. Ketika senja mulai mendekat, ketika sinar-sinar matahari meredup, menyisakan rasa tenang. Sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam, kamu bertanya kepadaku
“Kenapa sih kamu sayang samaku.”
Emm. Aku tentu saja tercekat ditodong pertanyaan seperti itu. Kamu pasti ingat, bagaimana rupaku ketika tersedak air kelapa muda. Batuk-batuk parah. Untuk sesaat perhatianmu teralihkan. Syukurlah.
Sewaktu menulis ini pun, kerongkonganku masih terasa serat. Paru-paruku berat menghirup oksigen. Semoga jawabanku ini tidak mengecewakanmu.
Sayang.
Aku bukan orang munafik. Orang lain akan berkata bahwa mereka saling mencintai tanpa alasan. Mereka jatuh cinta begitu saja. Yah, seperti perpisahan mereka yang juga terjadi begitu saja. Tidak.. tentu saja aku tidak mau kita berakhir seperti itu.
Aku jenis orang yang percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi karena hubungan sebab-akibat. Segala sesuatu mempunyai alasan.
Seperti hidup. Kita harus mempunyai alasan untuk hidup, bukan? Kita harus tau apa tujuan kita hidup di dunia ini. Sekedar menjadi pelajar, penulis, ibu rumah tangga, atau apa? Tanpa alasan tersebut, bukankah hidup akan sangat menyedihkan?
Juga seperti Tuhan. Mengapa kita menyembahnya? Mengapa kita beramal? Menurutku itu semua karena kita ingin masuk surga. Nah, itu suatu alasan, bukan? Meski miris menurutku, Tuhan harus menawarkan suatu imbalan agar kita menyembahnya. Apakah jika surga dan neraka tidak ada, kita akan tetap menyembahnya? Entahlah, Sayang. Aku bingung.
Untuk urusan hidup dan Tuhan saja, semua mempunyai alasan. Apakah cinta sehebat itu sehingga tidak memiliki alasan.
Karena itu, aku akan mencari alasan mengapa aku mencintai dan menyayangimu.
Kita mulai dari wajah. Wajahmu cantik. Tentu saja. Berbentuk oval, dengan kedua belah pipimu yang menggemaskan. Sepasang mata yang bisa mengalahkan sihir Merlin. Hidung lancip yang senang sekali kucubit. Dan biasanya kamu hanya mengaduh, sambil memegangi puncak hidung yang memerah. Tapi, tidak sayang. Masih banyak lagi yang lebih cantik di dunia ini. Aku tidak mencintaimu karena wajahmu.
Atau mungkin karena kecerdasanmu? Kita bisa membicarakan berbagai hal dengan seru. Apalagi kedua tanganmu yang bergerak lincah kesana kemari ketika menjelaskan sesuatu. Juga ketika keningmu berkerut-kerut. Memikirkan jawaban untuk membantah argumenku. Tapi, bukankah banyak yang lebih cerdas di dunia ini. Sepertinya, itu juga bukanlah alasanku mencintaimu.
Hmm. Ataukah karena tubuhmu? Kurasa tidak. Tubuhmu rata-rata saja seperti wanita kebanyakan. Tinggi 160 cm dengan berat badan 48 kg kurasa sudah ideal. Meski terkadang kamu ngotot untuk melakukan diet. Rela tidak makan demi mengurangin timbunan lemak, yang menurut pengakuanmu sudah melebihi batas. Kamu pasti tidak mau kalau aku mengatakan lemak-lemak itu yang membuatku terpesona.
Bagaimana dengan kepribadianmu? Hmmm. Bagiku, kamu adalah pacar, sahabat, motivator dan guru terbaik. Aku bisa bebas berekspresi ketika aku bersama denganmu. Aku tidak takut ditertawakan orang jika sedang melakukan hal konyol bersamamu. Aku bisa curhat mengenai apa saja kepadamu. Dan kamu juga selalu tau cara menenangkan aku ketika sedih. Kamu tau kapan saatnya bercanda, dan kapan saatnya serius. Kamu tau kapan harus mengalah dan mendekapku terlebih dahulu.
Ya, Sayang. Kurasa aku jatuh cinta kepadamu karena kepribadianmu. Meski tiga hal sebelumnya tidak ada, aku akan tetap mencintaimu karena kepribadianmu.
Oleh sebab itu, janganlah merubah kepribadianmu yang sekarang. Tetaplah menjadi wanita pujaanku. Wanita kebanggaanku. Tetaplah menjadi seseorang yang membuatku jatuh cinta berkali-kali. Dan aku juga akan memastikan hal yang sama berlaku sebaliknya.
Orang lain berkata, “Aku mencintaimu tanpa alasan.” Tapi kenapa ketika pasangannya mulai berubah, rasa cinta itu menghilang? Bukankah cinta tanpa alasan seharusnya bertahan selamanya? Apakah cinta memang tidak memiliki alasan? Apakah ketika pasangannya selingkuh, dia akan tetap mencintai? Apakah ketika pasangannya berubah menjadi pemarah dan suka memukul, dia akan tetap mencintai?
Setidaknya, aku telah menemukan alasan tersebut.
Sayang. Menurutku, mereka bukan mencintai tanpa alasan. Mereka hanya belum menemukan alasan untuk mencintai.
Setidaknya, aku telah menemukan alasan tersebut.
Begitulah, Sayang. Aku telah menjawab pertanyaanmu. Semoga kamu puas membaca ini.
Salam Sayang
Aku
***
Errr. Oke. Baru kali ini nyoba bikin surat cinta. Ini bisa dibilang surat cinta gak, sih? Ah, bodo amat, deh. Haha.
Ini fiksi. Tentu saja. Jangan ngebayangin aku udah melepas status jomblo. Kasian temen-temen yang lain kalau aku keluar dari klub. Pengen aja sih bikin artikel yang beda. Udah banyak banget kan yang nulis cinta tanpa alasan. Nah, disini ternyata cinta punya alasan.
Kalau kamu, gimana? Punya alasan mencintai juga atau tidak? Ceritakan di kolom komentar ya. Jangan lupa juga untuk nge-share artikel ini di media sosial kamu, supaya temen kamu yang lain bisa baca.
Salam Asal.
